Petani Cinyumput Dambakan TPT di Sungai Citalahab

  • Whatsapp
Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin bersama sejumlah petani, saat meninjau lokasi pesawahan Cigugur yang kerap diterjang air dari luapan sungai Citalahab.

NYALINDUNG – Puluhan petani di Kampung Cinyumput, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi mendambakan pembangunan tembok penahan tanah (TPT) untuk menjaga lahan pertanian padi agar tidak terendam air dari luapan sungai Citalahab yang memiliki lebar sekitar 50 meter.

Pasalnya, saat memasuki musim hujan seperti saat ini, lahan pertanian warga terancam gagal panen. Lantaran, air kerap meluap hingga menerjang puluhan hektare lahan pertanian.

Bacaan Lainnya

Seorang petani asal Kampung Cinyumput, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Didi Gunawan (47) mengatakan, lahan pesawahan Cigugur memiliki luas sekitar 30 hektare yang berada di samping sungai Citalahab ini, hampir 30 persen tidak bisa ditanami padi. Sebab, pembatas lahan pesawahan warga mengalami kerusakan setelah diterjang bencana banjir pada awal tahun lalu.

“Pembatas sawah dengan sungai Citalahab yang dibangun menggunakan beronjong batu ini, mengalami kerusakan sepanjang 50 meter dengan ketinggian tiga meter. Dampaknya, saat ini sebagian lahan pertanian padi tidak bisa digarap,” kata Didi kepada Radar Sukabumi, Kamis (19/11).

Apabila saat musim hujan, sambung Didi, para petani di sawah Cigugur, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, terpaksa harus bekerja keras lagi. Mereka membenahi galangan atau pembatas sawah yang rusak akibat diterjang banjir dari luapan sungai Citalahab.

“Banyak lahan pertanian di sawah Cigugur yang rusak karena diterjang arus deras sungai Citalahab yang tanggulnya jebol,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan, Asep Nurdin (35) yang merupakan seorang petani di Desa Wangunreja mengatakan, bahwa jika musim hujan, para petani selalu kerepotan karena harus mengocek saku, untuk membayar ongkos tenaga tukang cangkul yang membenahi galeng rusak karena diterjang banjird dari luapan sungai tersebut.

“Selain galeng, sawah petani juga banyak yang rusak, banyak bibit tanaman padi yang sudah ditanam di sawah mati membusuk. Karena air dari sungai Citalahab, telah merendam lahan pesawahan warga. Iya, kami terpaksa menanam ulang bibit padi yang mati itu karena terendam banjir,” ujarnya.

Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin mengatakan, pihaknya memebenarkan terkait kondisi lahan pertanian padi di sawah Cigugur yang kerap dilanda banjir saat musim hujan. Dirinya, mengaku sudah meninjuau lokasi pertanian itu, untuk memastikan kebenaranya.

“Memang kondisi sawah di sana pasti akan terendam banjir, jika musim hujan. Karena, tidak ada TPT maupun beronjong batu untuk pembatas sawah dengan sungai,” katanya.

Untuk itu, pemerintah Desa Wangunreja telah berupaya maksimal untuk menyampaikan aspirasi warganya kepada pemerintah terkait melalui permohonan proposal untuk pembangunan TPT di lokasi bantaran sungai Citalahab.

“Saya sudah sampaikan kondisi ini, sejak pada 2018 lalu kepada dinas terkait. Namun, hingga saat ini belum ada jawaban yang jelas. Saya berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan berupa pembangunan TPT untuk pembatas sungai dengan lahan pesawahan warga. Sehingga ketika musim hujan, para petani tidak merasa khawatir dan kelimpungan akibat luapan sungai yang dapar mengakibatkan hasil produktifitas pertaninan padinya menurun,” pungkasnya. (Den/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *