SUKABUMI — Rasa cemas dan was was tidak kunjung hilang dari benak para santri dan pengelola pesantren Al Waafy yang berlokasi di Kampung Cijambe Cigangsa, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.
Bagaimana tidak, setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut, mereka selalu diliputi kekhawatiran akan datangnya banjir yang bisa kembali melumpuhkan aktivitas pesantren.
Zulaikha Pratiwi, pengelola pesantren, menceritakan bahwa dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, lokasi pesantrennya sudah tiga kali diterjang banjir. Peristiwa yang paling parah terjadi pada 9 Maret 2025, di mana air bah menghantam seluruh area, merendam rumah, tempat ibadah, dan asrama santri.
“Pertama terjadi tanggal 4 Desember, lalu yang paling besar 9 Maret, dan terakhir Sabtu kemarin, 19 April 2025. Setiap kali hujan deras turun, kami langsung waswas. Rasanya sudah lelah dan capek harus selalu siaga,” ujarnya saat ditemui, Senin (22/4/2025).
Zulaika menggambarkan betapa derasnya aliran air yang masuk ke lingkungan pesantren. Air bercampur lumpur dan bebatuan kerikil menembus pagar belakang hingga menyebabkan kerusakan cukup parah.
“Masjid kebanjiran, kasur santri basah semua, tanah dan lumpur setinggi betis masuk ke sekolah dan asrama. Dilihat dari atas bangunan, air yang mengalir sudah seperti sungai,” ucapnya lirih.
Menurut Zulaika sebelum akhir tahun 2024, banjir seperti ini belum pernah terjadi. Namun sejak Desember 2024, bencana serupa terus berulang. Letak pesantren yang berada di daerah rendah dan tidak berfungsinya sungai ataupun selokan yang tertutup material bebatuan dan pasir serta lumpur diduga menjadi penyebab utama banjir kerap menggenangi kawasan tersebut.






