Soal omzet, Cucu pun mengaku miris. Sudahlah pandemi COVID-19 membuat permintaan berkurang, kini ikan-ikan hiasnya terancam mati pula karena sulit bernafas. Ibarat kata, engap-engap. Karena tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup.
Walhasil, sekira 80 persen omzet para pedagang ikan hias merosot setelah langkanya tabung oksigen di pasaran. Dan sudah pasti, kondisi finansial mereka pun terancam pula.
“80 peren omzet kami hilang, karena kami pun tidak berani menjual ikan ke daerah luar karena tidak ada oksigen,” sebutnya.
Obrolan pun makin dalam. Cucu mengungkapkan lagi bahwa dari informasi yang diterima, saat ini produsen oksigen mulai menyetop penjualan ke sektor industri. Termasuk, kepada para pelaku usaha ikan.
“Ya katanya sih fokus memenuhi kebutuhan rumah sakit, sehingga kami tidak kebagian,” ujarnya.
Dirinya berharap agar pemerintah memberikan solusi bagi para pelaku usaha penjual ikan. Karena memang, jika kondisi ini terus terjadi bisa membuat semua penjual ikan gulung tikar.
“Harus ada perhatian lah dari pemerintah, jika terus begini kami bisa bangkrut,” tandasnya. (upi/t)






