Pasca Gelombang Tinggi, Nelayan Ujung Genteng Sukabumi Panen Ikan Layur

  • Whatsapp
PANEN : Seorang nelayan Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, saat memperlihatkan ikan layur hasil tangkapannya pasca gelombang tinggi. (foto: istimewa)

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Pasca gelombang tinggi yang melanda wilayah perairan Laut Selatan Kabupaten Sukabumi, berdampak baik terhadap para nelayan. Pasca terjadi gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi di wilayah perairan laut Sukabumi, datang bersamaan dengan datangnya musim ikan.

Ketua Rukun Nelayan Kecamatan Ciracap, Asep JK mengatakan, pasca cuaca buruk, para nelayan yang berada di pesisir pantai Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, mulai memanen ikan layur yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Hasil tangkapan yang cukup lumayan mulai menggeliatkan roda perekonomian.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulilah, saat ini cuacanya sudah mulai membaik dan anginnya juga tidak terlalu kencang,” kata Asep JK kepada Radar Sukabumi, Senin (4/5).

Lebih lanjut ia menjelasan, gelombang tinggi selain memaksa nelayan beristirahat melaut juga merusak sejumlah budidaya rumput laut di wilayah tersebut. Namun pasca meredanya siklon tropis, kini nelayan yang berada di pesisir pantai Ujung Genteng mulai kembali melaut.

“Sekarang ini sedang musim ikan layur. Dalam semalamnya, bila nelayan pergi melaut menggunakan perahu piber, mereka bisa menangkap ikan layur sebanyak satu kwintal. Nah, kalau bulan kemarin nelayan hanya bisa mendapatkan ikan layur sebanyak lima sampai 10 kilogram saja dalam semalamnya,” ujarnya.

Selain panen ikan layur, sambung Asep JK, saat ini juga tengah memasuki musim ikan tenggiri dan ikan kakap. Pasca gelombang tinggi, tangkapan para nelayan di wilayah pesisir pantai Ujung Genteng, tengah melimpah dari kondisi normal.

“Pendapatan para nelayan sekarang lagi melimpah, khususnya untuk tangkapan ikan layur. Sementara, untuk harganya ikan layur ini masih normal dan tidak mengalami peningkatan. Iya, untuk satu kilogramnya, ikan layur ini dijual Rp45 ribu,” timpalnya.

Menurutnya, keberkahan para nelayan dalam tangkapan ikan layur ini, merupakan dampak cuaca ekstrim yang berimbas pada ikan pelagis jenis layur yang berbentuk panjang dan ramping tersebut, bergerak menuju perairan Ujung Genteng untuk berlindung.

“Memang, kalau sudah cuaca ekstrim biasanya para nelayan di Ujung Genteng ini, akan panen ikan layur,” ujarnya.

Pada beberapa hari yang lalu, tepatnya saat gelombang tinggi hampir seluruh nelayan yang ada di wilayah perairan Laut Ujung Genteng tidak pergi melaut. Bahkan, saat cuaca ekstrim sedikitnya tiga perahu jenis piber banyak yang rusak akibat diterjang gelombang ombak.

“Cuaca Ekstrim ini, sudah berlangsung lebih dari satu pekan yang lalu. Namun, kondisi air dan angin kembali normal sudah berlangsung sejak hari Sabtu (2/5). Iya, kalau selarang tinggi gelombang mulai dari 1,5 sampai dua meter,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, saat ini jumlah nelayan yang merupakan asli putra daerah dan beroperasi di wilayah perairan Ujung Genteng berjumlah 400 nelayan. Namun, bila digabung dengan nelayan andon yang melaut di wilayah perairan Ujung Genteng, bisa mencapai 1000 nelayan. Mereka, kebanyakan berasal dari warga Binuwangen Banten, Labuhan Ceringin, Palabuhanratu dan Cirebon.

“Alhamdulillah, kalau sekarang hampir 80 persen para nelayan sudah bisa beraktivitas untuk pergi melaut mencari ikan. Iya, kalau lagi cuaca buruk seperti pada beberapa waktu lalu, hampir semuanya tidak melaut, karena bila dipaksakan juga, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (Den/rs)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *