Irigasi Jebol, Ribuan Hektare Pertanian di Jampangtengah Terancam Gagal Panen

GOTONG ROYONG: Warga bersama pemeritahan desa saat memperbaiki saluran irigasi Cikadu yang jebol tergerus longsor. (foto: istimewa)

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Ribuan hektare lahan pertanian padi di Kecamatan Nyalindung dan Kecamatan Jampangtengah, terancam gagal panen akibat saluran irigasi sungai Cikadu yang berada di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi ambruk tergerus longsor pada April 2020 lalu.

Kepala Desa Tanjungsari Dillah Hablillah mengatakan, akibat ambruknya saluran irigasi tersebut, telah menyebabkan tanaman padi di wilayah Wangunreja, Kecamatan Nyalindung dan Desa Tanjungsari, Padabeunghar serta Desa Sirnaresmi, Kecamatan Jampangtengah, terancam gagal panen. Pasalnya, akses utama air untuk mengaliri lahan pertanian padi di wilayah tersebut tidak bisa berjalan maksimal.

Bacaan Lainnya

“Dampaknya, sekitar 1.172 hektare lahan pertanian padi di dua kecamatan ini, tidak bisa ditanami padi. Sebab, irigasi untuk mengairi lahan pertanian padi jebol saat dilanda hujan deras pada satu bulan terakhir. Iya, kalau untuk wilayah Desa Tanjungsari, ada sekitar 715 hektare lahan pertanian yang kondisinya mengering dan mengandalkan lintasan air hujan,” jelas Dillah kepada Radar Sukabumi, Senin (4/5/2020).

Menurut Dillah, setiap musim hujan sering kali terjadi longsor hingga menyebabkan irigasi yang mengairi lahan pertanian di empat desa tersebut, jebol. Bahkan, sejak musim hujan hingga saat ini sudah lebih dari tiga kali kejadian longsor.

“Bukan hanya satu titik di lokasi longsornya. Namun, yang paling parah dan luas berada di wilayah Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung,” paparnya.

Saat ini, pemerintah Desa Tanjungsari telah berupaya memperbaiki saluran irigasi tersebut, dengan swadaya masyarakat. Seperti, memasang karpet dengan karung yang berisikan tanah dan batu disertai bambu untuk menutupi areal saluran irigasi yang jebol tergerus longsor tersebut. Puluhan warga saat ini, tengah melakukan pengerukan tanah untuk memperbaiki saluran irigasi yang tergerus longsor itu.

“Namun upaya ini tidak berjalan maksimal. Karena, perbaikan irigasi itu hanya dapat bertahan sementara . Iya, seharusnya dibangun menggunakan semen. Namun, karena tidak memiliki anggaranya, maka kami bersama warga terpaksa memperbaiki irigasi yang rusak itu dengan peralatan seadanya,” bebernya.

Akibat irigasi jebol, ujar Dillah, saat ini petani di wilayah Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, telah beralih dari menanam padi ke tanaman palawija. Ini dilakukan untuk mensiasati agar lahan pertanian warga tidak terlantar.

“Mayoritas warga beralih ke tanaman palawija jenis jagung. Mereka sengaja pindah ke tanaman palawija. Lantaran, tanaman tersebut tidak banyakan membutuhkan air,” pungkasnya. (Den/rs)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.