“Bahkan saat ini peran Puskesmas untuk ODGJ masih tidak makimal, makanya tiap tahun terus bertambah ODGJ baru dan ODGJ terlantar,” timpalnya.
Makanya, jika di Kabupaten Sukabumi masih banyak ODGJ yang dipasung, Deni menilainya sangat wajar.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sukabumi, Irwan Ridwan menyebutkan, berdasarkan data 2017, di Kabupaten Sukabumi terdapat sekitar 435 ODGJ dengan berbagai kategori. Mulai kategori ringan, artinya yang masih bisa diajak bicara dan berpotensi bisa sembuh, hingga kategori berat.
Menurutnya, untuk penanganan ODGJ ini adalah merupakan kewenangan Dinas Kesehayan, lantaran Dinkes dibawah naungan Kemenkes yang dibawahnya terdapat Direktur ODGJ.
“Kalau Dinsos hanya rehabilitasi sosial setelah ditangani oleh pihak kesehatan. Apakah harus dibawa ke RSJ atau RSUD, kalau selesai pengobatan baru direhabilitasi. Kalau Sukabumi ada di Yayasan Phalamarta Cibadak,” sebutnya.
Soal kini banyaknya ODGJ yang mengamuk dan menjadi perhatian publik, pihaknya mengaku sudah membahasnya. “Ada dua opsi untuk menangani masalah ODGJ ini. Membuat penampungan segala permasalahan sosial tidak hanya ODGJ dan membuat sejenis penampungan hanya untuk orang kabupaten,” bebernya.
Irwan menilai, saat ini masih banyak ODGJ dari luar Sukabumi. Hal itu dilihat dari bahasa yang digunakan ODGJ bukanlah bahasa warga Sukabumi.



