SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Minat warga Kabupaten Sukabumi menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri hingga kini terbilang cukup tinggi. Mereka seolah tidak peduli dengan banyaknya kasus kekerasan yang menimpa pahlawan devisa tersebut.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi, jumlah TKI asal Kabupaten Sukabumi yang berangkat pada Januari-Juni tahun ini mencapai 525 orang. Sementara pada tahun 2018 kemarin, berjumlah 474 orang. “Diprediksi, pada tahun ini minat warga Kabupaten Sukabumi untuk bekerja menjadi TKW ke luar negeri akan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya,” jelas Kepala Seksi Penyediaan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Negeri Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, Tatang Arifin saat disambangi Radar Sukabumi di kantornya, Jalan Pelabuhan II, Kelurahan/Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, kemarin (9/7).
Dari ratusan TKI ini, sambung Tatang, mayoritas bekerja di negara Asia. Seperti Hongkong, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Taiwan. “Kebanyakan bekerja disektor informal. Seperti asisten rumah tangga dan lainnya,” ujarnya.
Menurut Tatang, alasan para TKI asal Kabupaten Sukabumi ini lebih memilih negara Asia lantaran pengiriman TKI untuk sektor informal ke negara Timur Tengah hingga kini masih dimoratorium. “Dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Sukabumi, kebanyakan TKI ini berasal dari Kecamatan Cisolok, Ciracap dan Kecamatan Cikakak,” paparnya
Ia menambahkan, proses pengiriman TKI di Kabupaten Sukabumi, sudah dilakukan dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu dengan melibatkan sejumlah pihak. Seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Polri, Kantor Imigrasi Kelas II Sukabumi, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan instansi terkait lainnya. “Untuk menekan maraknya calo tenaga kerja yang seringkali menimbulkan masalah, makanya semua pihak dilibatkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik, Sakti Alamsyah menilai, banyaknya ratusan warga Kabupaten Sukabumi yang bekerja sebagai TKI ke negara Asia ini karena mereka merasa sulit mendapatkan pekerjaan di daerahnya. Bahkan ironisnya, untuk bisa bekerja di daerah masyarakat harus mengeluarkan uang terlebih dahulu. “Sudah harus mengeluarkan duit, terus upahnya pun sangat minim. Jadi ini bisa menjadi salah satu alasan mereka lebih memilih ke luar negeri ketimbang bekerja di daerah sendiri,” timpalnya.
Supaya masyarakat Sukabumi bekerja di daerahnya, Pemkab Sukabumi harus membuka lapangan kerja seluas-luasnya dengan memprioritaskan warga daerah Sukabumi. “Selain itu, pemerintah juga harus menindak tegas perusahaan yang mengabaikan hak karyawan dan oknum yang memanfaatkan pencari kerja untuk mendapatkan keuntungan. Kalau tidak ada tindakan seperti ini, ya pasti akan tetap tinggi angka TKI kita,” singkatnya. (Den/d)




