Mendulang Sampah di Jalur Merah

Mengelola Sampah Sukabumi
MEMILAH : Adin (34) saat melakukan proses pilah sampah plastik yang ada di Gudang Pointtrash Cisaat Kabupaten Sukabumi. (2/11/2022).

SUKABUMI — Adin (34), baru saja pulang dari sekolah-sekolah yang ada di Kota Sukabumi. Wajahnya sedikit lelah, namun semangatnya masih membara. Seyumnya merekah meski berada di tumpukan sampah plastik yang dikumpulkannya dari berbagai sumber. Adin sehari-hari bekerja di perusahaan startup yang konsen mengurus sampah yang dikenal dengan Ponttrash Indonesia.

Gudangnya berada di perbatasan antara Kota dan Kabupaten Sukabumi tepatnya di Jalan Raya Cibaraja Kecamatan Cisaat. Masih belum layak dan terbatas. Saat ditemui digudangnya Adin bercerita baru saja mengedukasi sekolah soal sampah. Sambil berbicara tangan Adin cekatakan memilah sampah plastik yang diangkutnya dari berbagai mitra pernghasil sampah.

Bacaan Lainnya

Adin adalah mantan pekerja travel Umroh yang bangkrut sejak Covid-19 melanda tahun 2020 silam. Kini dirinya mantap bekerja sebagai pengepul sampah berbasis aplikasi. User atau pengguna aplikasi Ponittrash ini sudah tersebar di beberapa sekolah, perumahan dan perusahaan-perusahaan yang ada di Kota dan Kabupaten Sukabumi.

Adin bekerja sangat teliti dalam memilah sampah. Dirinya tidak hanya memilah, tetapi memiliki tugas lain. Seperti memberikan edukasi ke Sekolah, pesantren dan Perusahaan-perusahaan yang ada di Kota dan Kabupaten Sukabumi tentang sampah.

Hasilnya, tidak sedikit yang tertarik tawaran pointtrash ini hingga sekolah-sekolah mengumpulkan berkas dan sampah plastik untuk dijual melalui Aplikasi. Dalam sehari dirinya hanya mampu mengumpulkan puluhan Kilo saja. Itu karena keterbatasan armada dan pekerja.

“Saat ini Pointtrash cuma memiliki 4 karyawan, sebelumnya ada 12 orang. Dalam setahun kami hanya mampu mendulang sampah plastik dan sampah lainnya cuma di angka 25 Ton saja, itu tidak sebanding dengan jumlah sampah yang dihasilkan perhari di Kota dan Kabupaten Sukabumi, “cetusnya mengawali pembicaraan

Menurutnya, untuk sampah di Kota Sukabumi berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sampah yang dihasilkan mencapai 180 Ton perhari, sementara untuk sampah di Kabupaten Sukabumi dari catatan DLH sampah yang dihasilkan mencapai 250 Ton perhari. Berangkat dari sana, dirinya meneguhkan hati untuk tetap berada di bidang usaha pendulangan sampah yang memang bisa dibilang jalur merah.

“Potensi sampah di Sukabumi memang cukup besar, per hari saja untuk kota 180 Ton Kabupaten 250 Ton, sementara kami baru mampu dalam setahun mendulang cuma 25 ton sampah. Itu artinya apa yang dilakukan Pointtrash masih belum seberapa. Namun, memang dirata-ratakan mungkin sampah yang dibawa ke TPA sekitar 80 atau 90 persen dikurangi pendulang sampah konvesional lain, kalau kami kan berbasis Aplikasi, “bebernya.

Saat ini dengan keterbatasan, Pointtrash diharapkan terus hadir membantu pemerintah untuk mengurangi jumlah sampah. Pihaknya juga sudah memiliki beberapa binaan Sekolah, pesantren dan perusahaan-perusahaan yang bermitra. Namun, jika dihitung jumlah belum begitu banyak.

Perusahaan yang didirikan dua tahun silam memang baru seumur jagung, tetapi setidaknya dengan terus bergerak dibidang ini bisa mengurangi sampah yang beredar. Saat ini dirinya bersama Pointtrash belum mampu mendulang sampah organik, pasalnya belum ada alat dan lahan untuk mengolahnya. Ditambah lagi Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum memadai.

Pointtrash saat ini hanya berpaku pada hasil perputaran modal hasil penjualan sampah saja. Itupun jumlah hasil penjualan sampah belum banyak. Artinya sampah yang dihasilkan dari pelanggan aplikasi Pointtrash hanya dikumpulkan dipilah kemudian dijual lagi ke tangkulak lokal yang ada di Sukabumi.

Kedepan dirinya bermimpi, dengan potensi sampah 430 Ton berhari dari Kota da Kabupaten Sukabumi setidaknya bisa 10 persen dirinya dulang. Namun, mimpi itu dirinya awali dengan memulai edukasi dan adakan seminar-seminar ke sekolah, warga dan pemilik bank sampah yang ada di Kota dan Kabupaten Sukabumi.

“Saat ini kita berjalan saja, apa yang menjadi cita-cita pemerintah dengan pengurangan sampah di bawa ke TPA kita bantu, tapi meski tidak signifikan minimal kita masih bisa bergerak. Bayangkan saja di Kota Sukabumi TPA sudah Over Kapasitas, untuk Kabupaten Sukabumi akan menambah TPA yang direncakan di Cikidang, harusnya itu tidak terjadi jika sampah bisa dijadikan salah satu sumber untuk pendapatan ekonomi, “jelasnya.

Lebih lanjut diriya berharap, setidaknya dengan adanya pointtrash bisa mengedukasi masyarakat milenial untuk peduli terhadap sampah, kenapa milenial karena Pointtrash merupakan pendulang sampah berbasis Aplikasi yang tujuan utamanya mengedukasi masyarakat milenial kemudian ditularkan ke masyarakat. Bahkan dalam Sosialisasinya Pointtrash menggunakan Media Sosial untuk mengingatkan bahaya sampah dan keuntungan dari sampah.

“Kami hadirkan dan tampilkan isu-isu soal sampah secara menarik di Media sosial kami, mulai dari bahaya banjir akibat sampah yang dibuang sembarangan, hingga edukasi sampah bisa dijadikan sumber pendapatan lain dengan cara dijual, “bebernya.

Kolaborasi Adalah Kunci

Untuk mempermudah kerja dalam mendulang sampah, Pointtrash sendiri memperbanyak kolaborasi dengan penghasil sampah. Seperti dilakukan dengan kerjasama dengan salah satu sekolah negeri di Kota Sukabumi, yang mana Pointtrash menawarkan konsep dan gagasan kepada guru dan siswa untuk mengumpulkan sampah untuk dijadikan rupiah. Caranya ada yang dengan membayar Kas sekolah dengan sampah ada juga mengumpulkan sampah untuk kegiatan lain.

“Sudah ada dua sekolah dan Dua Pesantren yang bermitra, sehari-hari mereka mengumpulkan sampah dari hasil sehari-hari. Setelah terkumpul mereka menghubungi kami Via Aplikasi dan kami jemput ke lokasi tersebut, “jelasnya.

Edukasi Soal Sampah
EDUKASI : Adin (34) saat mengedukasi siswa SMKN di Kota Sukabumi tentang pentingnya memilah sampah untuk dijadikan rupiah. (foto : Pointtrash)

Untuk simtem pembayarannya memang sangat mudah dan praktis, para penghasil sampah tidak lagi harus cape-cape menjual sampah, tetapi cukup dengan aplikasi saja. Tim Pointtrash langsung datang dan hadir menjemput. Namun, sebelum ke arah sana berjalan tentunya ada perjuangan yang panjang, yang mana Pointtrash harus melakukan edukasi terlebih dahulu kepada siswa dan pihak sekolah dengan menjelaskan tujuan dari hadirnya Pointtrash di Sekolah.

Hal yang sama dilakukan pada perusahaan-perusahaan penghasil sampah lainnya. Sebelum bisa mengakses sampah dari perusahaan Pointtrash juga melalukan edukasi terlebih dahulu tentang sistem kerja Pointtrash yang merupakan pendulang sampah berbasis aplikasi. Kolaborasi dengan sejumlah perusahaan memang terus ditingkatkan. Namun, bukan tanpa kendala. Ada beberapa perusahaan yang tidak faham betul soal Pointtrash ini, hingga memerlukan edukasi yang mendalam dengan cara membuka seminar.

“Saat ini memang sangat dibutukan kolaborasi, karena Pointtrash pendulang sampah berbasis aplikasi yang cukup baru. Sosialisasi terus kami tingkatkan sambil berjalan agar terus menambah user dalam mengurangi sampah, “bebernya.

Sosok Adin yang pernah menjadi Aktivis kemahasiswaan di Kampusnya memang tidak ragu lagi untuk memilih kehidupannya berada di perusahaan berbasis sampah. Dirinya melihat potensi sampah ini masih sangat terbuka luas, hanya saja pendanaan hingga SDM yang terbatas membuat sulit cepat berkembang. “Dari pada kita duduk saja, kita mending jadi pemain dan berbuat semampunya dulu, yang penting ada niat. Pointtrash ini sudah bertahan dua tahun sudah baik, apalagi semakin hari semakin banyak user yang menggunakan Aplikasi kami, “tandasnya.

Kedepan dirinya berharap adanya pihak lain yang bisa berkolaborasi dalam membangun pendulangan sampah di Kota dan Kabupaten Sukabumi, pasalnya dengan potensi sampah perhari yang dihasilkan membuat dirinya yakin jika di proses dengan bersama-sama sampah di Kota dan Kabupaten yang perharinya mencapai 430 Ton ini bisa dijadikan sumber penghasilan lain masyarakat ditengah isu-isu krisis global.

“Jika kita ambil 20 persen dari 430 Ton perhari dari total sampah di Kabupaten dan Kota, setidaknya ada potensi ekonomi yang bisa digulirkan bersama-sama masyarakat untuk menjadi sumber penghasilan lain, “tutupnya.

Sampah Jadi Rupiah

Hampir di semua Daerah sampah ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan, beberapa daerah sudah sudah melalukanya. Seperti di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali, disana bupatinya sudah membuat beberapa inovasi, diantaranya Inovasi TOSS (Tempat Olah Sampah Setempat) dengan metode Peuyeumisasi. Programnya sudah berjalan sejak tahun 2017 silam yang bekerja sama dengan perguruan tinggi disana.

Di tahun 2017 itu juga Kabupaten Klungkung berhasil membuat percontohan TOSS di IPLT Lepang Desa Takmung dengan menguji coba dengan produk pellet sebagai bahan bakar gasifire. Kemudian dikembangkan lagi di TPA Dusun Sente sehingga TPA menjadi dikembangkan menjadi TOSS gema Santi. Apa yang dilakukan oleh daerah Klungkung tidak lepas dari suport dari perusahaan yang ada di sana dengan memberikan CSR dalam mengembangkan pengeloaan sampah.

“Pemilahan sampah di Klungkung berawal dari sumber awal, sejak tahun 2017 lalu, kemudian diperkuat oleh Perbub 47 tahun 2019 tentang pengelolaan sampah berbasis sumber, dan hasilnya masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari sumber awal, sehingga dalam pengelolaanya lebih mudah dilakukan, “Jelas Bupati Klungkung dalam sebuah seminar soal Sampah I Nyoman Suwirta belum lama ini.

Berdasarkan data Kementerian LHK, Indonesia saat ini menghasilkan 67,8 juta ton sampah pada 2020, terutama sampah plastik. Meski, pada pusat perbelanjaan di sejumlah daerah sudah mengurangi penggunaan kantong plastik. Nyatanya, berdasarkan data dari Sustainable Waste Indonesia (SWI), jenis sampah kedua terbanyak saat ini adalah plastik.

Berdasarkan penjelasan Sekretaris Jendral FITRA Misbah Hasan, sebetulnya regulasi terkait tatakelola persampahan sudah cukup lengkap, namun yang menjadi pertanyaanya sejauh mana pihak terkait baik pusat dan daerah dapat mengimplementasikan regulasi tersebut. Berdasarkan riset Fitra di tahun 2020, dari 514 Kabupaten dan Kota yang ada di Indonesia, hanya 45 persen saja yang sudah memiliki perda persampahan dan perda retrobusi persampahan. Itu artinya pengeloaan sampah di Indonesia masih kurang baik.

“Berdasarkan data APBD 2019, alokasi anggaran pengelolaan sampah di Dinas Lingkungan hidup di 60 Kota dan Kabupaten Sukabumi studi rata-rata mencapat Rp22,3 Milyar atau 2,1 persen dari total APBD, artinya anggaran untuk pengeloaan sampah ini masih sangat sedikit, “jelas Misbah Hasan.

Dirinya mencotohkan, anggaran pesampahan di DKI Jakarta saja untuk tahun 2022 hanya diangka 1,7 Triliun yang terdiri dari belanja jasa pengelolaan sampah 1,1 triliun, belanja modal bangunan dan penampungan sampah Rp600 juta, belanja modal instalasi pengeloaan sampah lainnya 608 Milyar dan belanjar pemeliharan instalasi pengelolaan sampah lainnya Rp7 Milyar.

“Jika disandingkan dengan APBD DKI Jakarta yang mencapai 72 Triliun untuk pengeloaan sampah hanya 1,7 Trilun artinya anggaran sampah untuk di DKI saja baru 2,5 persen dari total APBD, terangnya.

Ekosistem Ekonomi Sirkular Perlu Dipercepat

Ekosistem bisnis daur ulang sampah dinilai harus dipercepat. Dengan mendorong ekonomi sirkular, Indonesia berpotensi menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru dan menambah PDB Rp 569-Rp 638 triliun pada 2030.

Ekonomi sirkular punya masa depan yang sangat cerah di Indonesia. Sebagai negeri yang punya reputasi global sebagai penghasil sampah nomor dua di dunia, stigma negatif itu sebenarnya punya potensi besar untuk diubah jadi lebih positif dan menguntungkan. Dengan menggerakkan ekonomi sirkular yang menitikberatkan pada daur ulang sampah, maka sampah bukan lagi dilihat sebagai persoalan, tapi akan dipandang sebagai sumber daya ekonomi baru yang berkelanjutan.

Sampah Sukabumi
Sampah Plastik dari hasil pengepulan dari berbagai sumber di Kota Sukabumi

“Bisnis sirkular dengan penekanan daur ulang sampah plastik dan non-plastik, juga bermanfaat besar pada lingkungan,” kata Kasub Dir Prasarana dan Jasa Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Edward Nixon Pakpahan dalam penjelasannya dalam sebuah Zoom Meeting beberapa waktu lalu

“Manfaat ekonomi sirkular dari bisnis pendaurulangan sampah berpotensi menghasilkan tambahan PDB sebesar Rp593-Rp638 Triliun dari lima sektor usaha pada 2030,” katanya.

Kemudian dari segi manfaat sosial, katanya lagi, pengelolaan sampah secara sirkular ini bisa menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030. Selain itu, juga bisa menambah tabungan rumah tangga hampir 9%. Saat ini penerapan ekonomi sirkular di Indonesia sebutnya baru mencapai fase kedua atau fase pengembangan.

“Fase pertama adalah analisis potensi ekonomi lingkungan dan sosial, fase kedua pengembangan rencana aksi ekonomi sirkular nasional (RAN-ES), kemudian fase ketiga pembuatan platform ekonomi sirkular dan uji coba proyek, kemudian fase keempat penciptaan pengembangan kondisi pendukung, dan terakhir fase kelima adalah implementasi penuh ekonomi sirkular di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045,” katanya.

Saat ini, sampah yang dikelola bank sampah per tahun masih relatif kecil, artinya masih banyak peluang ekonomi yang bisa dimaksimalkan. Persentase jumlah nasabah di bank sampah didominasi nasabah dari kaum perempuan sebesar 64%, berbanding jauh dibanding laki-laki yang hanya 36 persen. Sementara untuk pertumbuhan jumlah nasabah di bank sampah ada kenaikan pada tahun 2020 yakni mencapai angka 419,204, tetapi kemudian turun pada tahun 2021 di angka 377,881 karena pengaruh Covid.

“Meski demikian, patut dicatat, gagasan UMKM untuk realisasi konkret ekonomi sirkular pengelolaan sampah, harus tetap dibarengi dengan idealisme, komitmen, dan konsistensi, barulah kemudian disusul bicara rupiah,” kata Nixon mengingatkan.

Sementara itu, Circular Economy Specialits Chandra Asri Nicko Setyabudi mengungkapkan, permasalahan sampah di Indonesia terutama sampah plastik bisa diatasi dengan kolaborasi seluruh stakeholder. “Persoalan sampah ini sebetulnya bisa kita atasi dengan cara berkolaborasi, antara aktivis, masyarakat, pemerintah dan yang lainnya,” ujarnya Pada acara Workshop dan Fellowship yang digelar Suara.com dan Chandra Asri, turut membahas mengenai soal isu sampah di Indonesia, yang dilaksanakan di Ballroom Hotel Akmani Jakarta pada Sabtu (29/10/2022) bertema ‘Ekonomi Sirkular sebagai Solusi Penanganan Sampah di Indonesia.’

Saat ini kata Nicko sapaan akrabnya, pihaknya tengah berfokus kepada keberlanjutan Chandra Asri dalam mengelola soal sampah untuk berkelanjutan. Sebab, problematika terkait isu Lingkungan ini sangat sulit, karena harus ada rubrik khusus, bahasa teknis yang tidak diketahui oleh semua jurnalis, kendalanya minat pembaca yang sedikit dan juga pengeluaran atau biaya soal liputan.

Ia mengungkapkan, ada tujuh pertimbangan dalam peliputan khusus soal lingkungan yang dibagikan Suara.com untuk media lokal di daerah. Pertama adalah harus mencari fakta yang akan menjadi isu pemberitaan soal lingkungan. Kedua, konflik, yakni harus mencari soal konflik pada pembahasan sebuah pemberitaan, baik itu orang dengan orang, kelompok dengan kelompok, atau masyarakat dengan negara.

Ketiga, karakter, yakni harus mencari tokoh yang kuat, seperti kasus Wadas di Jawa Tengah, cari orang memang melawan dengan karakter kuat, tidak perlu ketua ataupun kepala desa atau tokoh masyarakat itu sendiri.

Keempat mempertimbangkan akses, kelima soal emosi, yakni mencari emosi seperti amarah, kesedihan, apakah itu bisa mendukung untuk mencari dalam membuat sebuah pemberitaan story telling.

Kelima perjalanan waktu, dalam konteks ini kita mulai cari soal latar belakang orang yang mengetahui proses awal permasalahan hingga melawan. Keenam kebaruan, dan Ketujuh catatan menggali ide, yakni cara untuk menggali cerita itu sendiri mulai dari Reportase, menulis dan berpikir.

Berdayakan Masyarakat

Saat ini sampah plastik termasuk sampah yang sulit didaur ulang dan kerap kali jadi masalah bagi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lantaran sampah plastik baru bisa terurai dalam waktu ratusan tahun, sampah plastik kerap kali menambah volume dan penumpukan sampah di TPA hingga usia tampung sampah menurun.

Meski demikian, belakangan PT. Chandra Asri Petro Chamical Tbk (Chandra Asri) menggandeng masyarakat dan nelayan pesisir Pantai Anyer, Kabupaten Serang Banten untuk ikut mengelola sampah platik.

Memberdayakan masyarakat dan nelayan pesisir Chandra Asri mengurangi timbulan sampah plastik di TPA dan mencegah sampah platik bocor ke laut melalui program ekonomi sirkular.

Hal tersebut dijalankan melalui program Pengolahan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat (Sagara) serta Industri Pengelolaan Sampah Terpadu-Atasi Sampah (IPST-Asri). Program SAGARA yang dalam bahasa sansekerta berarti laut merupakan program edukasi untuk mendorong kebiasaan masyarakat memilah sampah rumah tangga. Nelayan juga didorong untuk mengangkut sampah platik yang mereka temui saat melaut.

KUMPULKAN SAMPAH PLASTIK
SAMPAH PLASTIK- Salah satu nelayan pesisir Pantai Anyer, Banten mengumpulkan sampah plastik untuk diolah menjadi Bensin Plas,  (Foto Suara.com/Hairul Alwan)

Sementara, sampah plastik lainnya yang tergolong low value dikirim ke IPST-ASRI untuk dipilah kembali sesuai jenis. Kemudian dicacah dan diolah dengan mesin pirolisis menjadi bahan bakar jenis Bensin Plas, Minyak Tanah Plas, Solar Plas.

Ia mengungkapkan, sejak awal berjalan pada September 2021 lalu hingga Juni 2022, program tersebut berhasil memberikan dampak 12,8 ton sampah plastik tidak terbuang ke TPA atau bocor ke laut. Kata Edi Rivai, sebanyak 12.816 kg sampah atau 12,8 ton sampah plastik itu di olah di IPST-ASRI menjadi 4.936 liter produksi bahan bakar hasil pengolahan sampah dengan proses pirolisis. “Program tersebut juga berdampak pada 2.898 penerima manfaat dan menciptakan 10 lapangan kerja baru tercipta,” katanya saat ditemui di IPST-Asri di Serdag, Cilegon.

Diketahui sebelumnya Sinar Mas Land kembali menjalin kerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama yang dilakukan di BSD City.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh FX Sidi Widagdo selaku kuasa Direksi PT Bumi Serpong Damai Tbk. dan Edi Rivai selaku Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri. Adapun kerja sama dilaksanakan untuk aplikasi aspal dengan campuran sampah plastik kresek sepanjang 3,8 km atau 56.138 m2 yang akan diterapkan di BSD City.

Program ini bertujuan untuk memberi nilai baru bagi sampah plastik yang menjadi bagian dari campuran aspal dalam rangka pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas jalan serta implementasi konsep ekonomi sirkular sebagai bentuk usaha menjaga kelestarian lingkungan.

Pembangunan infrastruktur jalan ini akan dilakukan mulai dari 18 Juli hingga akhir 2022. Sinar Mas Land terus mentransformasi BSD City sebagai smart city. Salah satu elemen yang menjadi perhatian utama adalah pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Upaya ini dilakukan Sinar Mas Land bersama Chandra Asri yang berperan aktif dalam mendorong penggunaan aspal dengan campuran sampah plastik di skala nasional. Tahun lalu, kedua perusahaan telah sukses untuk mengaplikasikan aspal dengan campuran sampah plastik di kawasan Barat BSD City dengan luas area 15.518 m2 dan berhasil mengelola setara dengan 5,37 ton sampah plastik dari TPA.

“Sinar Mas Land fokus untuk memberikan solusi inovatif dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan. Kami meyakini bahwa Chandra Asri memiliki kompetensi dan pengetahuan teknis memadai dalam mendukung proses daur ulang sampah plastik menjadi campuran aspal guna menghasilkan jalan dengan ketahanan yang lebih baik dan tahan lama. Penerapan aspal plastik di BSD City merupakan upaya perusahaan dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat sekitar daerah pembangunan kami menuju penerapan model ekonomi sirkular,” kata Chief Risk & Sustainability Officer – Sinar Mas Land, Muhammad Reza Abdulmajid.

“Setelah sukses berkolaborasi dalam implementasi aspal plastik pertama di kawasan BSD City tahun lalu, kami senang dapat kembali bermitra Sinar Mas Land untuk melanjutkan inisiatif ini. Perpanjangan kerja sama ini sejalan dengan komitmen kami untuk menjadi mitra pertumbuhan yang dapat diandalkan dalam mewujudkan solusi terbaik pengelolaan sampah plastik berkelanjutan melalui konsep ekonomi sirkular. Kami juga akan terus proaktif mendorong kemitraan dan partisipasi multipihak dalam pembangunan aspal plastik sebagai upaya mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah plastik, di Indonesia,” kata Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri, Edi Rivai.

Sejak tahun 2018, Chandra Asri telah mengimplementasikan aspal dengan campuran sampah plastik melalui program Aspal Plastik untuk Indonesia Asri bersama dengan pemangku kepentingan lainnya.

Sampai saat ini, total gelaran jalan dengan aspal plastik oleh Chandra Asri bersama para mitra adalah sepanjang 50,8 km dan 282 ton sampah plastik yang telah berhasil dikelola dari TPA.(hnd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *