KPH Sukabumi Catat 10 Kasus Karhutla

  • Whatsapp
Petugas saat memadamkan api yang membakar hutan dan lahan milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi, belum lama ini.

SUKABUMI — Selama musim kemarau kemarin, kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi, jumlah relatif banyak.

Berdasarkan rekap siaga kebakaran hasil dari pemantauan lapan hotspot fire di wilayah lahan KPH Sukabumi, terhitung dari awal Agustus 2020 sampai September 2020, terdapat 10 kasus kebakaran di lahan milik KPH Sukabumi.

Bacaan Lainnya

Diantaranya, RPH Hanjuang Barat Lengkong, tiga hektare, RPH Cimahpar Jampangkulon, 0,50 hektare, RPH Cisujen Jampangkulon, 025 hektare, RPH Cikembar Cikawung 0,35 hektare, RPH Cimahpar Jampangkulon 0,15 hektare, RPH Hanjuang Barat Lengkong tiga hektare, RPH Parmas Utara Palabuhanratu 0,20 hektare dan RPH Parmas Selatan Palabuhanratu 0,10 hektare.

Danru Polhut KPH Sukabumi, Vicky Yuldan mengatakan, saat ini KPH Sukabumi memiliki jumlah total lahan seluas 58.000 hektare lebih terdiri dari hutan produksi jenis jati dan hutan rimba. Seperti pohon pinus, rasamala, puspa dan lainnya.

“Dari ribuan hektare lahan milik KPH Sukabumi ini, terdapat sekitar tujuh hektare lebih lahannya terbakar saat musim kemaruu. Titik kebakaran hutan atas dasar pantauan aplikasi lapan fire hotspot yang ditindak lanjuti cek lokasi sesuai titik koordinat,” kata Vicky kepada Radar Sukabumi, Jumat (2/10).

Hektaran lahan milik KPH Sukabumi ini, diduga sengaja dibakar yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pembukaan lahan garapan pertanian. “Jadi cara mudah, murah. Makanya, masyarakat penggarap melakukan pembersihan garapan dengan cara pembakaran hutan,” ujarnya.

Menurutnya, mayoritas warga membakar hutan untuk pemhukaan lahan pertanian palawija. Seperti padi huma, jagung, kacang-kacangan dan lainnya. “Iya, kalau menurut warga sangat efektif membakar hutan untuk pembukaan lahan itu.

Tapi menurut kami itu sangat berdampak buruk terhadap ekosistem. Seperti sistemik yang ada di dalam tanah sebagai pengurai itu, mati ketika dibakar. Selain itu, sebagai penyumbang asap juga. Intinya dampaknya negatif terhadap lingkungan,” bebernya.

Namun, apabila pembukaan lahan itu dilakukan dengan cara yang lebih ramah. Seperti dengan cara di tumpuk atau ditimbun, menurutnya sangat baik. Selain dapat menjadi pupuk, sistem tersebut juga dapat menjaga ekosistem lingkungan.

“Kemarin kasus kebakaran itu, puncaknya di September 2020, karena kondisi kemarau. Paling banyak ditemukan di wilayah Gunung Parang Masigit Timur dan Selatan yang daerahnya masuk ke wilayah Simpenan,” paparnya.

Ketika disinggung mengenai kerugian materil dari kejadian kasus Karhutla. Dirinya menjawab, hingga saat ini belum ada laporan soal kerugian materil akibat pohon yang terbakar.

“Karena lahan yang terbakar hampir seluruhnya lahan kosong yang vegetasinya hanya semak belukar. Jadi untuk pohon tidak terkena dampaknya,” timpalnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya kasus Karhutla, KPH Sukabumi sudah melakukan mitigasi bencana sejak dini. Seperti melakukan pemetaan daerah mana saja yang masuk ke lokasi berpotensi kebakaran.

“Setelah itu, kita berikan himbauan dan sosialisasi kepada warga. Selain itu kita gencarkan patroli dilokasi rawan lahan kebakaran,” pungkasnya. (den/d)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *