KABUPATEN SUKABUMI

Kisah Keluarga Pemulung Tahunan yang Meraup Rezeki di Pantai Karanghawu Sukabumi

×

Kisah Keluarga Pemulung Tahunan yang Meraup Rezeki di Pantai Karanghawu Sukabumi

Sebarkan artikel ini
saat memilah sampah
Siti Maryati (42) saat memilah sampah botol plastik kemasan di pesisir pantai Karanghawu Kecamatan Cisolok. FOTO: GARIS NURBOGARULLAH/RADAR SUKABUMI

SUKABUMI – Kata bijak itu benar, bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Dan siapa sangka bahwa rezeki yang dimaksud berupa sampah. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh Siti Maryati. Wanita yang kerap hilir mudik di pesisir Pantai Karanghawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi mengais rezeki dengan memulung sampah.

Laporan: GARIS NURBOGARULLAH, Palabuhanratu

Bank bjb Tandamata

USIANYA kian mendekati separuh abad. Itu artinya tenaga yang dimiliki perempuan berusia 42 tahun itu mulai menurun. Namun warga Kampung Pangadegan RT09/08, Desa Sunda Wenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi itu tak patah aral dalam mewujudkan asa hidupnya. Keyakinan itu kian kuat dengan bantuan Yusuf, sang suami.

Saat orang-orang menghabiskan libur lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah, Maryati dan suami justru menangkap peluang yang lain. Dia manfaatkan momentum libur lebaran mengais rezeki dengan memulung botol bekas minuman kemasan, di pesisir Pantai Karanghawu, Kecamatan Cisolok.

Ibu enam anak ini pun mengaku sudah sekitar 10 tahun menggeluti usaha memulung botol minuman kemasan maupun gelas plastik dan kardus di sekitar pesisir pantai Karanghawu.

Bahkan setiap tahun ia bersama suaminya rutin, satu hari sebelum lebaran sudah datang ke Pantai Karanghawu untuk memilah dan memilih sampah yang dapat ia jual menjadi pundi-pundi rupiah.

“Rutin setiap tahun, biasanya satu hari sebelum lebaran sudah ke sini dan salat idul fitri juga sengaja di daerah sini. Kalau sampah-sampahnya dari pantai. Ya, hitung-hitung bersih-bersih juga,” kata Siti kepada Radar Sukabumi, Selasa (18/05).

Selama mengumpulkan botol-botol bekas dan kardus, Siti bersama suami dan anak keduanya tersebut mendirikan tenda biru di pesisir pantai Karanghawu, sebagai tempat singgah sementara.

“Kalau tidur di sini (tenda) tapi agak jauh dari bibir pantai biar lebih aman. Jadi kalau pun ombaknya lagi pasang tinggi, kami segera pindah ke tempat yang lebih aman. Di sini kami cuma dua minggu,” ucap Siti.

Momentum libur lebaran ini, biasanya sampah terutama bekas botol plastik minuman, melimpah sehingga tidak sulit untuk mengumpulkannya. Nantinya setelah dua minggu terkumpul, dijual kepada pengepul langganan yang sudah bertahun-tahun.

“Kalau sudah dua minggu atau mau pulang, baru kami kasih tahu pembeli yang sudah biasa setiap tahun. Biasanya setiap tahun hasil penjualan bersih untuk dibawa ke rumah Rp700 ribu. Itu sudah sama makan, jajan dan buat ongkos,” jelasnya.

Siti mengaku sehari-hari di rumahnya bersama suami juga profesinya sama menjadi pemulung. Sehari penghasilan bisa mencapai 50-60 ribu, tetapi kadang-kadang sudah mendapat Rp30 ribu saja kata Siti dirinya sudah bersyukur.

“Dari anak dua sampai anak enam profesi kami memang memulung habisnya suami susah juga cari kerja. Apalagi di situasi seperti sekarang ini. Bantuan yang katanya untuk masyarakat di kondisi Covid-19 juga sama sekali saya tidak dapat,” ungkapnya.

Ditutupnya objek wisata oleh gugus tugas covid-19, sambung Siti, tidak berpengaruh terhadap jumlah botol yang ditemukan di pesisir pantai. Sebab, sebelumnya pengunjung sempat ramai dan membludak datang ke Karanghawu.

“Gak berpengaruh, masih sama banyak. Di sini juga gak hanya saya dan suami ada juga orang Cicurug yang berpofesi sama (tidak jauh dari tempat Siti),” tandasnya. (cr1/t)