Di tengah sorotan publik, DLH tetap berusaha. Meski ada anggapan penanganan sampah baru bergerak setelah viral di media sosial, Nuryamin menampiknya. Ia menegaskan pelayanan tetap berjalan, meski keterbatasan membuat DLH tidak selalu bisa bertindak spontan. “Kami tidak menyerah. Harapannya, penanganan sampah ke depan bisa lebih kolaboratif dan partisipatif,” pungkasnya.
Persoalan sampah di Palabuhanratu bukan sekadar soal kebersihan. Ia adalah cermin wajah kota, sekaligus ujian bagi pemerintah dan masyarakat: apakah mampu berkolaborasi menjaga lingkungan, atau terus membiarkan sampah menjadi simbol yang memprihatinkan.(ndi/d)




