Adapun terkait lokasi pelaksanaan, kata Nandang lagi panitia berdasarkan hasil kordinasi dengan semua pihak. memutuskan untuk memindahkan kegiatan ke kawasan Gadobangkong dan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi dermaga Palabuhanratu yang rusak akibat musibah pada Desember 2024 dan Maret 2025.
“Insya Allah besok akan kami follow up ke DLH sebagai pengelola Gadobangkong, mudah mudahan tahun ini hari nelayan bisa dilaksanakan disana, tanpa menutup aktivitas warga, dan tidak menghambat jalan raya,” terang Nandang.
“Karena kalau di dermaga sudah tidak memungkinkan. Setelah survei ke beberapa lokasi, kami memilih Gadobangkong karena strategis dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk lalu lintas,” sambung Nandang.
Nandang juga menambahkan, pihaknya sudah mendapatkan restu langsung dari Bupati Sukabumi serta berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup sebagai pengelola kawasan alun alun Gadobangkong, yang mana semua kegiatan mulai dari upacara adat, bazar, hingga hiburan akan dipusatkan di lokasi tersebut.
“Kami berharap seluruh warga bisa hadir dan menikmati kemeriahan Hari Nelayan tahun ini,” ucapnya.
Nandang kembali mengatakan, tahun 2025 ini merupakan tahun ketiga Hari Nelayan Palabuhanratu kembali masuk dalam kalender event nasional (KEN) sebagai salah satu dari 110 event terbaik di Indonesia. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun terus mengalir, terutama dari Dinas Pariwisata.
“Kami berharap pak Gubernur atau perwakilannya bisa hadir tahun ini. Kami sudah menjalin komunikasi, semoga bisa terealisasi,” tutur Nandang.
“Nanti Upacara adat, bazar, hiburannya juga, jadi kita akan di gadobangkong, insya allah kami berharap suport, dukungan dari pak Bupati dan lain sebagainya, mudah mudahan hari ini bisa lebih dinikmati oleh seluruh warga bisa datang di hari nelayan,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu peserta putri nelayan Palabuhanratu tahun 2025, Djemima Shireen masih pelajar SMA di kecamatan Cisolok mengungkapkan, motivasinya mengikuti pemilihan putri nelayan, karena sejak kecil sudah menjadi salah satu bagian dari mimpinya.
“Yang paling penting, saya ingin menjadi refresentatit wanita muda yang peduli terhadap lingkungan laut, budaya nelayan, dan budaya warisan kita dan tradisi,” ucapnya.
“Persiapan saya penambahan wawasan, menghapal sedikit sedikit pengetahuan umum aturan aturan, yang pasti karantina sudah tahu kali ini ditiadakan. Harapan saya dengan diadakannya putri nelayan ini tidak hanya sekedar ikon rasa syukur kita terhadap budaya dan tradisi. Kedepan juga bisa melahirkan generasi muda yang peduli ingin melestarikan budaya dan tradisi kita,” tandasnya. (Ndi).






