Selain itu, peralatan hotel seperti sendok garpu hingga sikat gigi yang sudah diminta hotel sebanyak 10.000 pcs perbulan, dengan harga hanya Rp1000. Oleh karena itu, pihaknya sangat membutuhkan teknologi tepat guna agar dapat menekan biaya produksi lebih efektif dan efisien.
“Selain itu juga ada arsitek, alat musik, alat olahraga, pupuk, hingga obat tradisional. Kami sudah memiliki legalitas formal. Ke depan akan membentuk koperasi agar lebih sejahtera, Asosiasi punya AD/ART, visi misi, salam bambu, hingga hymne. Juga sudah dilakukan koordinasi dan rapat kerja, dengan tujuan mampu mensejahterakan para perajin bambu,” ungkap Agus.
Hanya saja, Agus mengakui, Sukabumi belum memiliki brand, khususnya terkait dengan bambu yang menjadi unggulan dan sudah melakukan ekspor. Meski ekspor bambu dan kerajinannya di Sukabumi sudah banyak, namun keuntungan lebih banyak di perusahaannya. Sedangkan perajin mendapat keuntungan lebih kecil dari perusahaannya.
“Mahalnya biaya ekspedisi juga berpengaruh. Harusnya bisa berangkat satu hingga dua kontainer, namun karena harga ekspedisi meningkat jadi menghambat,” tandasnya. (ris/d)






