SUKABUMI – Upaya pengembangan sorgum sebagai komoditas alternatif di Kabupaten Sukabumi terus bergulir. Namun, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa keberhasilan program ini tak cukup hanya dengan menanam—sistem pemasaran juga harus disiapkan secara matang.
Kepala Bidang Sarana Pertanian Distan Kabupaten Sukabumi, Deni Ruslan, menyampaikan bahwa penanaman sorgum di Kampung Cipatuguran, Kelurahan Palabuhanratu, merupakan langkah positif dalam diversifikasi pangan. Namun, ia memberi catatan penting terkait belum terbentuknya tataniaga sorgum yang solid di tingkat lokal.
“Sorgum bukan tanaman baru. Ia satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Bahkan secara nasional, sorgum digadang-gadang sebagai pangan masa depan,” ujar Deni saat diwawancarai, Kamis (27/11).
Menurutnya, pengembangan sorgum harus dilakukan secara terstruktur dan tidak terburu-buru. Salah satu kunci utama adalah membangun siklus usaha tertutup—di mana petani menanam dengan kepastian pembeli sejak awal.
“Kalau langsung dilepas ke pasar tanpa kepastian, petani bisa kesulitan menjual hasil panennya. Kita butuh pola yang menjamin kesinambungan antara produksi dan pasar,” tegasnya.





