KABUPATEN SUKABUMI

Distan Kabupaten Sukabumi Siap Sambut Tantangan Swasembada Pangan

×

Distan Kabupaten Sukabumi Siap Sambut Tantangan Swasembada Pangan

Sebarkan artikel ini
Suasana rapat Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi dengan seluruh stakeholder terkait, termasuk Tim Satgas Swasembada, Perhutani, Perhutanan Sosial, dan sektor perkebunan. (FOTO : NANDI/ RADARSUKABUMI)
Suasana rapat Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi dengan seluruh stakeholder terkait, termasuk Tim Satgas Swasembada, Perhutani, Perhutanan Sosial, dan sektor perkebunan. (FOTO : NANDI/ RADARSUKABUMI)

SUKABUMIDinas Pertanian Kabupaten Sukabumi mengambil langkah strategis, dari pidato pertamanya Presiden Prabowo yang menegaskan bahwa Indonesia harus segera mencapai swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Hal ini kemudian direspons serius oleh Kementerian Pertanian dengan mencanangkan komitmen bersama untuk meningkatkan produksi padi dan jagung.

Sehingga, menurut Deni Ruslan, Kepala Bidang Sarana Pertanian Dinas Pertanian, Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu kawasan sentra produksi padi dan jagung, mendapat amanah besar. Untuk periode Januari–Desember 2025, Sukabumi ditargetkan memproduksi 899.599 ton Gabah Kering Giling (GKG) padi dan 104.492 ton Pipilan Kering jagung.

Bank bjb Tandamata

 “Nah target ini setara dengan luas tanam 216.456 hektar untuk padi dan 17.821 hektar untuk jagung dan pencapaian target ini memerlukan peningkatan intensitas tanam padi sawah hingga 60% dari kebiasaan petani saat ini,” ujar Deni.

 “Target ini sangat besar dan menantang. Untuk mencapainya, diperlukan koordinasi lintas sektoral dan peran aktif semua stakeholder, mulai dari pemerintah, petani, hingga pihak swasta,” imbuhnya.

Untuk menyusun strategi yang komprehensif, lanjut Deni Ruslan, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi mengundang seluruh stakeholder terkait, termasuk Tim Satgas Swasembada, Perhutani, Perhutanan Sosial, dan sektor perkebunan. 

 “Pertemuan ini bertujuan merumuskan langkah-langkah konkret dalam mencapai target produksi yang telah ditetapkan,” jelasnya.

 “Kami tidak hanya fokus pada perencanaan, tetapi juga pada implementasi di lapangan. Upaya maksimal harus dilakukan, mulai dari peningkatan kualitas benih, optimalisasi lahan, hingga pendampingan teknis bagi petani,” tambah Deni.