“Iya, mereka melihat berbagai kegiatan belajar anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan Desa Wisata Hanjeli. Dibimbing oleh para mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja di luar negeri. Mereka belajar dengan menggunakan pengantar bahasa Arab dan Inggris,” paparnya.
Di rumah kreatif tersebut, mereka melihat berbagai macam lukisan ornamen kaligrafi dan melukis Caping (topi kebun). Membuat berbagai kerajinan dari bambu berupa gelas dan anyaman bambu, serta suling. Lalu melawat ke pembuatan bambu suling serta tempat proses pembuatan teh secara tradisionil. Melihat kreatifnya anak-anak dan warga Desa Wisata Hanjeli, mereka telah menaruh harapan, bahwa potensi mereka dapat menjadi penyeimbang derasnya arus budaya urban.
“Untuk itu, One Village One Story dengan pengelola dan warga Desa Wisata Hanjeli secara berkesinambungan sangat diperlukan. Karena, kompleksitas kehidupan urban dengan dinamika masyarakatnya yang memiliki mobilitas tinggi. Selain itu, menggenjot keunggulan teknologi yang berorientasi pada ekonomi semata, serta kuatnya dominasi ekonomi yang dirasionalkan dalam pertumbuhan fisik kota. Sehingga desa kerap kehilangan karakteristiknya,” pungkasnya. (den/d)






