PALABUHANRATU – Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Lima Faudiamar, memberikan tanggapan terkait aksi demonstrasi ratusan pelajar SMKN 1 Gunungguruh yang viral di media sosial pada Selasa (22/10) kemarin.
Menurut Lima Faudiamar, aksi tersebut yang dilakukan oleh para siswa yang menuntut kejelasan terkait penggunaan dana sumbangan komite, pembangunan masjid sekolah yang belum selesai, serta alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Lima menjelaskan bahwa informasi terkait demonstrasi tersebut ia peroleh langsung dari Kepala Sekolah SMKN 1 Gunungguruh, Ibu Ai, dimana aksi tersebut merupakan bentuk sikap kritis para siswa yang mempertanyakan hak-hak mereka, terutama soal transparansi penggunaan dana komite dan BOS.
“Anak-anak kita hebat, mereka kritis mempertanyakan hak-hak mereka, termasuk terkait penggunaan uang sumbangan komite, kenapa pembangunan masjid belum selesai, serta dana BOS digunakan untuk apa saja,” ungkap Lima. Rabu, (23/10).
Lima juga menambahkan, terkait pembangunan masjid, dana BOS tidak bisa digunakan untuk pembangunan fisik seperti itu. Oleh karena itu, sekolah mengandalkan infak dari siswa dan orang tua untuk melanjutkan pembangunan.
“Kalau untuk masjid, dana BOS tidak bisa digunakan. Jadi, hanya mengandalkan infak kencleng dari siswa, dan tidak meminta tambahan dari komite, karena akan menimbulkan masalah baru,” jelasnya.
Selain itu, kata Lima lagi para siswa juga mempertanyakan penggunaan dana infak yang dikumpulkan, dan biasanya digunakan untuk keperluan seperti membantu siswa yang sakit atau kebutuhan sosial lainnya.
“Ada juga pertanyaan tentang dana infak yang dikumpulkan dari siswa. Dana itu digunakan untuk keperluan sosial, misalnya untuk membantu siswa yang sakit,” terangnya.






