“Dengan berkurangnya jumlah awan di atmosfer, maka energi matahari yang diterima permukaan bumi semakin banyak hingga cuaca pada siang hari terasa semakin panas dan lembap, serta masih tingginya Suhu Permukaan Laut (SPL) sehingga udara terasa lembap, karena proses evaporasi dan evapotranspirasi masih tinggi,” sambungnya.
Juga adanya perubahan fase air dari cair menjadi gas, lanjut Yan F Permadhi menyebabkan tingkat kelembapan udara di atmosfer menjadi tinggi. Kelembapan relatif (Relative Humidity – RH) menyatakan perbandingan tekanan uap air dan tekanan uap air jenuh pada suhu yang sama dengan satuan persen. Suhu udaranya tinggi mencerminkan kemampuan menampung uap air juga tinggi.
“Kondisi ini diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir Mei atau akhir musim peralihan. Musim kemarau diprediksi akan segera memasuki Bandung Raya pada awal hingga pertengahan Juni 2022,” tandasnya. (Cr2/d)






