“Alhamdulillah dokter dan pihak klinik mau menerima jaminan. Sampai sekarang belum pernah ditagih sisanya, tidak pernah juga keluarga yang melahirkan ditagih baik oleh pihak klinik,” tutur Eroh.
Dalam banyak kesempatan, Eroh pun turut turun tangan mengantar pasien menggunakan ambulan desa, bahkan tanpa sopir sekalipun. Ia mengaku, banyak pengalaman suka duka selama mengantarkan warga yang membutuhkan pertolongan medis.
“Saya juga pernah jaminkan NPWP, KTP, bahkan masih ada yang belum saya ambil sampai sekarang. Tapi saya tidak pernah mau diberitakan, malu. Buat saya, menolong orang itu bukan untuk diviralkan,” tambahnya.
Viralnya aksi suaminya di media sosial, lanjut Eroh Suryantini hanya sebagian kecil dari kebaikan – kebaikan yang selama ini telah lakukan secara diam-diam. Baginya, jabatan kepala desa bukan semata amanah pemerintahan, melainkan sarana untuk benar-benar mengabdi kepada masyarakat.
“Kalau bukan kita yang bantu warga yang membutuhkan bantuan siapa lagi?,” terangnya.
“Sering bantu warga, kebetulan waktu hari kemarin viral sampai seperti kaya gini, padahal melakukan kebaikan itu sering, gak diviral viralkan karena gak mau saya mah, bukan sekali menolong orang, saya gak mau, banyak dari wartawan yang nanya, saya jadi sopir ambulan, saya tolak gak mau saya,” tuturnya.
Sementara itu Jaro Midun, mengatakan tidak menyalahkan pihak rumah sakit ataupun siapapun atas tindakannya yakni menjaminkan STNK kendaraan pribadinya ke rumah sakit Palabuhanratu demi membantu seorang warga yang telah dinyatakan sembuh tetapi belum bisa pulang karena tidak mampu melunasi biaya pengobatan.
Menurut Jaro Midun, kejadian sebelum vital, awalnya bermula pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, Ia sedang dalam perjalanan, sementara sang istri, Eroh Suryantini, juga sedang tidak berada di rumah. Tiba-tiba datang kabar bahwa seorang warga mengalami sesak napas dan membutuhkan pertolongan cepat.
“Pasien awalnya datang ke rumah saya, langsung ditangani adik saya karena saya masih di jalan. Oksigen dari desa kami bawa ke rumah, dan kondisi warga tersebut sempat membaik. Lalu pasien dibawa pulang lagi. Tapi malam sekitar jam 11, keluarganya telepon lagi, katanya pasien makin parah,” tutur Jaro Midun saat ditemui. Kamis (28/5/2025).
Tanpa pikir panjang, Jaro Midun segera menginstruksikan istrinya untuk membawa pasien ke rumah sakit menggunakan ambulan desa. Saat itu sopir ambulan sedang tidak bisa dihubungi. Istrinya pun mengantar sendiri pasien ke rumah sakit Palabuhanratu.
“Kata istri saya, pasien sudah ditangani di rumah sakit. Bahkan sempat diberi uang jajan karena keluarganya benar-benar tidak membawa apa-apa,” lanjutnya.






