Bupati Sukabumi Buka-bukaan Soal Polemik Perda Mihol

Bupati Sukabumi saat memberikan sambutan pada Malam Anugrah
SAMBUTAN : Bupati Sukabumi, saat memberikan sambutan pada Malam Anugrah Sukabumi Award pada puncak HUT Radar Sukabumi ke 14 di salah satu hotel yang ada di wilayah Kota Sukabumi pada Sabtu (17/12) malam.

SUKABUMI — Keberadaaan kawasan wisata di Kabupaten Sukabumi, kerap memanjakan para wisatawan baik domestik hingga wisatawan manca negara. Bagaimana tidak, daerah terluas se Pulau Jawa dan Bali, setelah daerah Bayuwangi itu, memiliki kawasan wisata yang sudah diakui dunia.

Namun, meski demikian kekayaan potensi alam yang dimiliki Kabupaten Sukabumi, harus tetap dikelola secara maksimal untuk mengingkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Bacaan Lainnya

Hal demikian, disampaikan Bupati Sukabumi, Marwan Hamami saat malam penganugerahan Sukabumi Award 2022 yang digagas Radar Sukabumi di Hotel Taman Sari, Kota Sukabumi pada beberapa waktu lalu. Bahwa menurutnya, potensi yang dimiliki Kabupaten Sukabumi harus memiliki nilai jual yang tinggi.

“Saya mencermati peluang untuk Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk destinasi wisata baik secara nasional, lokal maupun internasional, ini dimungkinkan. Tetapi ini barangkali harus dipikirkan, karana saya cermati Bali saja PAD tertingginya adalah dari minuman keras. Namun sudah jelas tidak memungkinkan kalau di kita. Apalagi di Kabupaten Sukabumi, memiliki visi yang religius dan kita mempunyai Perda Nol Persen Alkohol,” kata Marwan.

Meski begitu, Kabupaten Sukabumi ini juga memiliki peluang agar bagaimana hal ini untuk memberikan ruang dalam mengkhususkan pada penghobi profesi yang dimiliki. Terlebih lagi, mereka para wisatawan yang datang, khususnya wisatawan dari manca negara itu, sering meminum bir.

“Orang dari luar yang surping di Palabuhanratu maupun ombak tujuh daerah Pangumbahan Ujunggenteng, seperti dari Jepang, Australi dan teman-teman dari berbagai Nnegara Eropa. Iya, pagi minum bir, sore minum bir, katanya mereka itu belum hidup kalau belum minum bir,” tandasnya.

Untuk itu, kondisi ini perlu jadi pemikiran dan kesepakatan bersama untuk mencermati potensi yang ada. Terlebih lagi, jika melihat atau berkaca pada daerah lain. Seperti Bali PAD tertingginya adalah dari minuman keras. Sebab itu, ia selaku pimpinan daerah di wilayah Kabupaten Sukabumi, selalu mendorong pembangunan perhotelan berbintang itu, dilakukan di wilayah Kota Sukabumi.

“Iya, karena ditakutkan ada minuman-minuman keras. Ini juga untuk meminimalisasi sebetulnya. Seperti yang tadi Abang Hazaerin bilang, Cipta Gelar kita punya, Ciletuh kita punya dan ini potensi yang luar biasa. Tapi itu tadi, tidak semua potensi yang dimiliki yang dianugrahkan oleh Allah itu, diminati karana tidak ada minuman keras sebagai pendukung karena wisata tidak lepas dari minuman dan juga potensi lainnya,” bebernya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *