Akademisi sekaligus praktisi pertanian, Mia Kunto, menyebut keberhasilan ini sebagai bukti bahwa pendekatan pertanian berbasis koperasi dan teknologi ramah lingkungan dapat membawa perubahan nyata.
“Biasanya jagung butuh waktu 3 sampai 4 bulan untuk panen. Tapi di sini, hanya dalam waktu satu setengah bulan, hasilnya sudah bisa dinikmati. Bulirnya sempurna, besar-besar, dan kualitasnya sangat baik,” ujar Mia, istri dari Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Letjen Kunto Arief Wibowo.
Mia menambahkan, penggunaan Bios 44 juga mengurangi biaya produksi karena tidak memerlukan pupuk kimia atau pestisida. Produk organik ini terbukti efektif mencegah serangan hama.
“Tanaman yang dipupuk dengan Bios biasanya tidak dihampiri hama. Ini solusi ramah lingkungan dan efisien bagi petani,” pungkasnya.
Panen raya ini tidak hanya membawa kebahagiaan bagi petani, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Desa Sasagaran untuk mendorong kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian berkelanjutan.(den/d)




