KABUPATEN SUKABUMI

Aliran Air Ratusan Hektar Sawah Desa Ginanjar Ciambar Terputus

×

Aliran Air Ratusan Hektar Sawah Desa Ginanjar Ciambar Terputus

Sebarkan artikel ini
Warga dan pemerintah Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar saat berjibaku memperbaiki saluran irigasi solokan Cipamutih 1 yang rusak akibat tergerus longsor.(FOTO : FOR RADAR SUKABUMI)

CIAMBAR – Warga Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar mengharapkan pembangunan irigasi solokan Cipamutih 1 untuk mengairi ratusan hektare lahan pertanian warga di wilayah tersebut. Pasalnya, irigasi solokan ini sudah bertahun-tahun tidak berfungsi secara maksimal.

Lantaran, selain banyak yang rusak akibat tergerus bencana longsor pada beberapa bulan lalu, juga sudah puluhan tahun tidak diperbaiki oleh pemerintah setempat.

Bank bjb Tandamata

Seorang warga Kampung Cikatomas, Rt 5/1, Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar, Bedi (50) mengatakan, irigasi solokan Cipamutih 1 yang memiliki panjang sekitar 16 kilometer ini, bukan hanya digunakan oleh pertanian warga di Desa Ginanjar saja. Namun, juga dimanfaatkan oleh lahan pertanian di wilayah Desa Cimbar.

“Sudah delapan tahun lebih, irigasi solokan Cipamutih 1 ini, kondisinya terbengkalai dan tidak bisa mengairi lahan pertanian warga. Iya, dampaknya kami tidak bisa bercocok tanam secara maksimal. Karena lahan pertanian kami tidak teraliri air,” jelas Bedi kepada Radar Sukabumi melalui sambungan telepon selulernya, kemarin (5/1).

Sepanjang saluran irigasi solokan Cipamutih 1, sambung Bedi, kondisinya banyak yang rusak dan jebol. Sehingga air tidak sampai ke lahan pertanian warga. “Saluran irigasi ini, bukan hanya digunakan untuk mengairi lahan pertanian saja, tetapi juga kerap digunakan warga untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan, Ujang Hilman (50) warga Kampung Pasir Angin, RT 1/9, Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar mengatakan, ratusan hektare lahan pertanian padi di Desa Ginanjar, Kecamatan Ciambar selalu dikeluhkan karena tidak adanya sistem pengairan. Hal ini, terjadi karena saluran irigasi solokan Cipamutih 1 rusak. “Apalagi saat ini, memasuki musim hujan. Pasti banyak yang jebol,” katanya.

Akibat tidak maksimalnya saluran irigasi, telah berdampak pada lahan pesawahan warga menjadi tidak maksimal. Bahkan, terdapat beberapa lahan yang kondisinya retak-retak.

“Akibat irigasi solokan ini, rusak. Warga disini sekarang banyak yang beralih profesi dari bercocok tanam padi beralih ke tanaman singkong,” imbuhnya.

Dirinya menambahkan, sawah petani tidak dapat dimanfaatkan menjadi sumber ekonomi warga Desa Ginanjar dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Sebab itu, ia dan warga lainnya berharap agar ada solusi dari pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi dalam menyelesaikan sawah petani di Desa Ginanjar yang hanya mengandalkan hujan atau sawah tadah hujan. “Kami ingin kembali mengelola sawah seperti pada delapan tahun yang lalu.

Namun, sayangnya hingga selama ini pemerintah daerah terkesan tidak memperhatikan terhadap kondisi tersebut,” timpalnya.

Kepala Desa Ginanjar, Iwan Ridwan mengatakan, saluran irigasi solokan Cipamutih 1 ini, untuk mengairi lahan pertanian warga seluas 250 hektare. Namun, semenjak saluran irigasi rusak banyak lahan pertanian warga yang berubah mejadi tanah darat.

“Semenjak terpilih menjadi kepala desa, saya langsung terjun kelapangan dan gotong royong bersama puluhan warga untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak itu. Namun, permasalahannya adalah banyak titik longsor yang menggerus saluran irigasi yang memiliki panjang sekitar 16 kilometer yang harus diperbaiki dengan biaya yang sangat besar.

Saat peninjuan ke lapangan, kami bersama para petani menginventarisir kebutuhan perbaikan saluran irigasi itu, ternyata diatas Rp4 milyar,” katanya.

Saat ini, pemerintah Desa Ginanjar, tengah berupaya maksimal untuk memperbaiki saluran irigasi tersebut, melalui swadaya masyarakat. Namun, usahanya tidak berjalan maksimal.

Karena, perbaikan hanya menggunakan seadannya saja. Seperti karung dan bambu. “Kemarin kita baru memperbaiki saluran irigasi yang jebol itu, dengan panjang sekitar 60 meter.

Iya, seharusnya dibangun menggunakan semen. Namun, karena keterbatasan anggaran, terpaksa kami memperbaiki irigasi yang rusak itu dengan peralatan seadanya,” bebernya.

Rusaknya saluran irigasi tersebut, telah membuat resah para petani. Untuk itu, tidak sedikit warga yang merupakan para petani tersebut datang ke kantor desa dan meminta kepada pemerintah daerah agar dapat segera memperbaiki saluran irigasi yang ambruk tergerus longsor itu.

“Karena saya baru menjabat, upaya yang sudah dilakukan selain gotong royong, juga baru tahap koordinasi dengan pemerintah setempat. Inysa Allah dalam waktu dekat ini, kami akan mengusulkan untuk meminta bantuan pembangunan saluran irigasi rusak ini, kepada pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi maupun ke pemerintah provinsi.

Mudah-mudahan, pemerintah daerah dapat segera memperbaiki saluran ini. Iya, kasian warga disini setelah irigasi itu banyak yang jebol lahan pertaniannya banyak yang tidak teraliri air secara maksimal,” pungkasnya. (den/d)