“Para petani selalu mendesak kepada pemerintah desa untuk segera memperbaiki kerusakan irigasi agar mereka bisa segera menanam padi. Namun sayang, kami belum bisa mengabulkan keinginan mereka. Lantaran terbentur soal anggaran yang tidak sedikti,” bebernya.
Saat ini, lanjut Dillah, pemerintah Desa Tanjungsari sudah berupaya memperbaiki saluran irigasi tersebut melalui swadaya masyarakat. “Namun usaha kami ini tidak berjalan maksimal. Karena, perbaikan hanya menggunakan karung dan bambu. Seharusnya dibangun menggunakan semen,” paparnya.
Dirinya menambahkan, sawah petani tidak dapat dimanfaatkan menjadi sumber ekonomi warga dalam meningkatkan kesejahteraannya.
Sebab, itu ia berharap agar ada solusi dari pemerintah daerah dalam menyelesaikan sawah petani di Desa Tanjungsari yang hanya mengandalkan hujan atau sawah tadah hujan, agar petani dapat menanam tiga kali dalam setahun.
“Saat ini, petani hanya bisa memanen padi dalam setahun satu kali sampai dua kali saja karena terkendala perairan,” pungkasnya.
(Den/d)





