RADAR SUKABUMI — Terkait sindiran “Gubernur Konten” yang diucapkan oleh Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud terhadap Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, saat rapat kerja para Gubernur dengan Komisi II DPR-RI, di Senayan Jakarta, pada Selasa (29/4/2025) lalu.
Menurut Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, bahwa secara prinsip ‘Gubernur Konten’ itu menjadi penting sebagai sebuah eksposure dari seorang pejabat publik (Gubernur) saat melakukan gebrakan – gebrakan yang terukur.
“Dengan adanya media sosial yang berlimpah tentu para Gubernur dan pemimpin daerah bisa memamerkan apa saja yang sudah dilakukan oleh mereka,” ujar Adi Prayitno, dikutip dari Kompas TV, pada Minggu (1/5/2025).
Lebih lanjut dikatakannya, tak bisa dipungkiri, bahwa selama ini banyak sekali tuntutan publik soal kinerja nyata dari pemimpinnya (Gubernur, Bupati dan Walikota -red).
Sehingga dengan adanya media sosial (medsos), maka menjadi momen of the thrut (momen pembuktian) bagi para pemimpin-nya. “Ya, minimal publik atau masyarakat bisa melihat bahwa pemimpin (Gubernur) itu bukan sekedar duduk manis atau berdiam diri selama lima tahun kepemimpinannya,” kata Adi Prayitno.
Dia menyebutkan, bahwa kinerja yang diekspos di media sosial oleh Gubernur atau pejabat lainnya, seharusnya dibarengi pula dengan kebijakan – kebijakan yang konkrit.
“Misalnya soal kemiskinan bisa berkurang, akses terhadap pekerjaan semakin mudah, akses kesehatan yang mudah,” ujarnya.
“Tentu, kita tidak mau apa yang termuat di media sosial tersebut hanya sebatas Gimmick tanpa solusinya,” ucap Adi Prayitno, menambahkan.
Menurutnya, kalau dilihat dari apa-apa yang ditunjukan para Gubernur yang mengekspos kinerja-nya di medsos, memang kecenderungan disuka banyak publik atau netizen.
“Tapi ini akan menjadi feedback, yang justru sebaliknya kalau tidak dibarengi dengan kebijakan-kebijakan terukur, misalnya keinginan wajib militer ke siswa yang dianggap nakal terus tidak dibarengi dengan kebijakan terhadap pembinaan-nya, ya percuma,” tutur Adi Prayitno.
“Kenapa (anak nakal) tidak dipesantren kan, bukan kah di pesantren itu pembinaan jasmani dan rohani-nya juga cukup kuat, sentuhan-sentuhan psikologis seorang ulama, kiyai menjadi penting untuk menimba anak-anak yang dianggap nakal,” kata dia.
“”Sehingga anak nakal, bisa menjadi anak yang baik dan soleh. Lalu, bisa jadi pesantren-nya bisa terbantu dengan adanya program ini,” ungkapnya, menambahkan. (Ron/Kom)






