PURWAKARTA – Yusuf Solihin, pria berusia 48 tahun. Warga Kampung Sasak Beusi, Kelurahan Sindang Kasih, Purwakarta itu sudah sejak lima tahun lalu menekuni pekerjaannya sebagai penambang pasir tradisional di aliran Sungai Cikao.
Aliran sungai Cikao yang membelah jantung kota Purwakarta tersebut ternyata membuahkan keuntungan tersendiri bagi Pria beranak tiga itu. Tak heran, selama ini banyak warga lain, selain Yusuf yang menggantungkan hidup di lokasi tersebut. Tak ada alat khusus yang digunakannya dalam mencari pasir yang terdapat di dasar sungai.
Hanya sebuah gaet yang terbuat dari besi pipih dan bergagang panjang yang menjadi perlengkapannya mengais rezeki.
Yusuf menjelaskan, pasir yang diambilnya ini merupakan sisa-sisa pasir terbawa arus dari hulu sungai. Pasir-pasir yang mengendap di dasar sungai itu kemudian mereka ambil dan kumpulkan untuk selanjutnya dijual.
“Dari pada mengendap dan malah terjadi pendangkalan sungai, kan lebih baik diangkat saja. Sedikit-sedikit juga kan lumayan. Yang penting tidak merusak lingkungan,” ujar Yusuf, ditemui belum lama ini.
Dia mengaku, hampir setiap hari dia bersama tujuh rekan lainnya melakukan penambangan pasir di dasar sungai ini. Meskipun cukup beresiko, dia tetap menjalani profesinya itu.





