“Kemudian di Tegalluar ada TOD (Transit Oriented Development), sudah diusulkan kepada Kementerian Perhubungan,” katanya.
Langkah sinkronisasi ketiga, kata dia, adalah konsolidasi rencana pembangunan LRT ini dengan berbagai pihak, terutama dengan pemerintah pusat. Dengan demikian, dapat diketahui pihak mana saja yang melakukan masing- masing programnya.
“Karena ini menyangkut investasi besar dan juga yang pertama barang kali di Indonesia, yang khusus kaitannya dengan kareta cepat yang nyambung dengan LRT,” katanya.
Langkah keempat, kata Iwa, konsolidasi pemerintah provinsi dengan pihak terkait. “Sekarang yang sudah dilakukan apa saja lalu tinggal apa saja, supaya ini juga bisa segera selesai,” tambahnya.
Terkait proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, Iwa mengatakan, sampai dengan 22 Januari 2018, perkembangannya cukup signifikan.
Total panjang relnya sekitar 142,3 kilometer, mulai dari Halim Perdanakusuma di DKI Jakarta Karawang di kilometer 41, lalu Walini di kilometer 96, dan Tegalluar di kilometer 142. Apabila nanti dilanjutkan ke Bandara Kertajati, dibutuhkan sekitar 70 kilometer lagi.
“Kami pun kini tengah mengurus perizinan dengan Kementerian ESDM terkait izin tambang untuk pembangunan kereta cepat. Kajian lanjutan tentang LRT dan TOD Tegalluar pun masih dilakukan,” pungkasnya.
(net)




