Rata-rata sebut Devi, orang gila yang ditangani kebanyakan dari luar Depok. Kemungkinan mereka terlantar dan kabur dari rumah. Kalau warga Depok yang mengalami ganguan kejiwaan ditangani dan dipantau terus hingga sembuh.
Lebih lanjut sebut dia, orang gila yang ditangani Dinsos di 2017 sebanyak 44 orang. Terdiri dari perempuan 30 dan laki laki ada 14 orang yang mengalami ganguan kejiwaan selama kurun waktu 2017 lalu.
Sedangkan, data 2016 tidak ada karena Dinsos Depok baru dibentuk, lalu 2018 belum ada data yang direkap. “Jadi setiap bulan rata-rata ada tiga sampai empat orang gila yang ditangani Dinsos,” bebernya.
Diakui Devi, Pemkot Depok belum memiliki rumah sakit jiwa, namun selama ini pihaknya selalu merawat kesembuhan diserahkan ke RSMM Bogor. “Kedepan kami akan bekerjasama pihak RSMM, sehingga bisa diprioritaskan,” ulasnya.
Terlebih kata dia, memang jumlah rumah sakit jiwa di Depok tak ada. Begitu juga di Jawa Barat posisi rumah sakit jiwa yang ada di Sukabumi namanya Rumah Sakit Jiwa PSBL Phala Martha.
Menurut dia, penyabab orang menjadi stres dan mengalami ganguan kejiwaan beban hidup yang semakin berat. Sementara kondisi perekonomkan yang tak stabil. Selain perkara ekonomi, ada faktor lain pemicu stres adalah interpersonal, pendidikan, dan asmara.
(RD/irw/pojokjabar)



