Alhasil, perlahan ia berhasil membuat pesawat berjenis Ultralight dengan panjang 5,20 meter dan bentangan sayap 8 meter ini. Ilmu yang ia dapat dari buku ia sempurnakan dengan informasi melalui media sosial yakni Youtube.
Meski masih dalam tahap penyempurnaan, ternyata pesawat berwarna dasar putih ini memiliki kecepatan 300cc dengan dua blok mesin, berkekuatan 40 tenaga kuda dan 140 tenaga dorong. “Saya dari dulu sering membuat kendaraan kecil seperti motor berukuran kecil. Semua buatan saya itu, saya anggap sebagai mainan. Sehingga setelah semuanya sudah saya coba, saya ingin lebih dari sebelumnya dengan membuat pesawat,” ujarnya sambil memeriksa pesawat buatannya.
Meski bukan lulusan teknik mesin dan hanya mengenyam bangku pendidikan hingga kelas 2 SMP, optimisme tinggi yang menjadi dasarnya dan juga tekun belajar untuk suatu hal yang baru.
Kisah pembuatan pesawat dirinya pun viral. Beberapa kalangan kerap menghubunginya melalui sambungan telepon. Dirinya tidak bisa menambah beban pesawat karena terbentur aturan penerbangan, sehingga pesawat buatannya hanya memiliki berat kosong 110 kilogram.
Sejak kecil, pria paruh baya dengan penampilan sederhana ini memang senang mengulik hal-hal baru. Hingga akhirnya dirinya harus hijrah ke Kota Taucho pada tahun 2003 dengan bermodalkan kompresor atau mesin pengisi angin untuk membuka bengkel tambal ban.
“Mesin sengaja beli, bahan lainnya ada beli ada dari limbah bengkel. Jika setelah diuji coba, ini akan dilanjutkan. Rencananya diuji coba di Cidaun, Cianjur Selatan setelah lebaran bersama dengan dari pihak Lanud Sulaiman,” tuturnya. (*)






