Warga pun mulai menyumbang dalam pembangunan. Ada yang menyumbangkan papan, atap “yotof” (daun rumbia, red), hingga uang tunai Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu.
Para pemuda yang gotong royong mengerjakannya di bawah koordinasi Hafid. Rumah baca didirikan di atas tanah milik sekolah yang dengan sukarela dipinjamkan. “Warga saja yang “nyumbang”, pemerintah desa belum,” kata Hafid, Sabtu (19/5).
Saat didatangi wartawan koran ini akhir pekan itu, Hafid dan lima anak tengah asyik menikmati bacaan di rumah baca tersebut. TBM tersebut berbentuk rumah panggung dengan teras mungil. Ukurannya hanya 2 x 2 meter. Di dalamnya terdapat rak-rak berisi puluhan buku beragam genre hasil sumbangan masyarakat.
“Bukunya tergolong masih sedikit. Masih butuh banyak jika ada yang mau menyumbangkan buku,” tutur Hafid. Meski buku-buku yang ada belum terlalu banyak, anak-anak di Banemo sudah antusias memanfaatkan
rumah baca itu. Ada yang sekadar membaca, ada pula yang datang untuk mengerjakan tugas sekolah.
“Saat ini ada buku pelajaran sekolah, novel, sampai buku-buku umum,” sambungnya.
Beberapa mahasiswa asal Banemo kerap datang untuk belajar bersama dengan anak-anak jika ada waktu. Tokoh masyarakat di sana juga memiliki kesadaran yang sama untuk berbagi ilmu.



