Featured

Suka Duka Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri

×

Suka Duka Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri

Sebarkan artikel ini

Hampir seminggu bertugas dalam operasi DVI jatuhnya pesawat Lion Air, +++++++Astuti selalu pulang pada pukul 24.00. Kondisi itu memengaruhi anak bungsunya. Saat masih berada di RS, sekitar pukul 22.00, ada telepon dari ibunya. ”Anak saya sakit, panas sampai 39,3 derajat (Celsius, Red),” ujarnya.

Kondisi itu tidak membuat Astuti yang sudah bekerja melebihi jam kerja langsung pulang. ”Saya selesaikan dulu tugas merekap antemortem data gigi, baru bisa pulang. Saya sudah minta diberikan obat,” tuturnya.  Sejak kecelakaan nahas itu, Astuti juga mendapat berbagai pertanyaan dari teman-temannya. ”Ada teman dekat, teman Facebook, dan teman lama. Mereka merupakan teman dari korban,” urainya.

Bank bjb Tandamata

Kebanyakan pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan untuk bisa dilakukan identifikasi. Saat itu Astuti membuat daftar antemortem yang harus diserahkan. ”Daftar itu saya bagi ke yang bertanya, dari struktur gigi, sidik jari dari ijazah, dan sebagainya,” jelasnya.

Saat itu belum terbentuk tim mana yang bertugas mengumpulkan data antemortem. Astuti berinisiatif sendiri. Setidaknya ada sepuluh antemortem yang dia kumpulkan. ”Mereka foto semua antemortem itu, dikirim ke e-mail saya dulu. Begitu tim antemortem terbentuk, saya serahkan,” ujarnya.

Hal berbeda dirasakan pula oleh Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombespol Putut Cahyo Widodo. Anggota tim DVI itu menuturkan, timnya bekerja 24 jam untuk bisa mengidentifikasi korban. ”Ya, hasilnya, 125 teridentifikasi dan 64 korban belum ditemukan,” terang dia.

Bagi dia, kesuksesan mengidentifikasi jenazah merupakan kebanggaan tersendiri. ”Zaman now, yang kami tes DNA-nya, tapi lama. Juga, risikonya, memang akhirnya diketahui ada yang belum ditemukan,” ujarnya.

 

(*/c11/oni)