Berdasar pengamatan Ady, susunan benteng dan gua amunisi itu persis seperti gua di Kedung Cowek, Surabaya. “Benteng di Kedung Cowek itu tempat penyimpanan amunisinya jauh, di Tambak Wedi,” kata penulis buku Benteng-Benteng Surabaya tersebut.
Di dalam gua itu kami “menemukan” 4 buah amunisi yang masih aktif. Panjangnya 70 cm dengan diameter 11,5 cm. Kondisi peluru itu sudah berkarat. Seingat Fauzan, dulu jumlahnya banyak. Ady memperkirakan peluru tersebut digunakan penjajah Belanda mulai 1830 sampai berakhirnya Perang Dunia II.
Setelah mencatat seluruh temuan, tim meninggalkan Gua Cimiring. Dibutuhkan perjuangan ekstra untuk keluar dari gua yang bagian dinding atasnya sudah rapuh itu. Kami harus memanjat timbunan bebatuan dan tanah yang menutup akses keluar gua. Salah menapak, timbunan batu serta tanah bisa ambrol.
Setelah berhasil keluar gua, perjuangan belum selesai. Kami harus memanjat tebing lagi untuk menuju jalan di depan kompleks mercusuar. Kemiringan tebing menuju jalan utama lebih curam dibandingkan ketika turun menuju pintu gua. Kami memperkirakan kemiringannya sekitar 60 derajat.
Untuk sampai ke atas, kami harus menapaki batang-batang pohon yang tumbuh di sekitar tebing. Sebab, bergantung pada batu saja tidak cukup aman. Sesampai di atas, perjalanan kami lanjutkan masuk ke kompleks mercusuar. Awalnya, kami datang ke mercusuar untuk beristirahat sejenak.
Tapi, Ady kemudian melihat keanehan. Dari kejauhan, dia melihat adanya lubang yang diduga sebagai pintu gua. Benar, memang pintu masuk gua. Di bagian luar gua masih tersisa besi dan fondasi bangunan. “Sepertinya gua itu sebagai pos intai kapal. Sekaligus penghitung koordinat dan sudut kapal yang datang,” terang Ady.Sudut dan koordinat kapal yang dihitung dari pos intai akan dilaporkan ke dalam gua. “Jadi, gua ini lebih sebagai ruang komunikasi.”



