Dengan program yang diresmikan akhir tahun lalu itu, polisi punya lima kali ke sempatan mendatangi sekolah yang sama dalam waktu singkat. Empat pertemuan dijadikan sebagai ajang pemaparan materi. Lalu, pertemuan terakhir dipakai sebagai ujian. ’’Jadi, siswa harus benar-benar mendengarkan saat pelajaran agar nilai ujiannya tidak jatuh,’’ tuturnya.
Beberapa tahun lalu, lanjut Sugeng, kasus narkoba yang melibatkan anak cukup tinggi. Dia dan pimpinan lantas melakukan evaluasi untuk meningkatkan pola pencegahan sejak dini. ’’Gambaran awal analisis adalah bagaimana cara narkoba bisa masuk ke kurikulum,’’ ucapnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo menyambut baik rencana tersebut. Mereka memberikan saran agar petugas fokus kepelajar SMP. Usia ketika remaja tengah mencari identitas diri.
Mereka harus bisa memastikan pergaulan pilihannya tidak salah. Fungsi dinas tidak hanya memberikan izin agar bahaya narkoba masuk kurikulum. Mereka juga memberikan pelatihan mengajar kepada polisi. ’’Dasar pertimbangannya karena polisi sudah pasti tahu seluk-beluk narkoba,’’ jelasnya.
’’Beda dengan guru yang mungkin hanya mendapat gambaran dari sebuah referensi,” lanjutnya.Sugeng pun merespons kerja sama itu dengan membuat buku panduan. Buku tersebut dijadikan dasar jajarannya untuk menyampaikan materi ke siswa. ’’Inti buku itu adalah mengenalkan segala jenis narkoba, dampak, dan sanksi bagi orang yang terlibat dalam peredarannya,’’ tutur polisi asal Mojosari, Mojokerto, tersebut.
Bapak dua anak itu tidak butuh waktu lama untuk menyusun buku tersebut. Kurang dari seminggu sudah selesai. Maklum, dia sudah kenyang pengalaman. Mayoritas karirnya dihabiskan di satuan yang fokus memerangi narkoba. ’’Buku internal. Di polres jajaran lain tidak ada,’’ ungkapnya.



