Kehadiran taman baca itu juga didukung masyarakat sekitar. Benar saja, sekitar 60-75 anak datang setiap harinya untuk lebih mendalami ilmu di sana. “Kami mengajar sesuai dengan kurikulum yang dari Dinas Pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Edy mengatakan, tak hanya para pendeta, anggotanya juga dikerahkan untuk mengajar anak-anak iu membaca, menulis, hingga pengetahuan umum. Hal ini pun menarik minat para anak. “Anak-anak bahkan lebih suka belajar di taman baca ini ketimbang di sekolah,” imbuhnya.
Untuk itu, Edy berupaya agar tenaga pengajar di Kampung Sauwandarek mendapat tambahan. Hal tersebut guna meningkatkan kualitas pedidikan. “Kita sedang berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan untuk menambah tenaga pengajar,” pungkasnya.
(dna/JPC)




