Bahkan, di luar haul pun, peziarah tak pernah sepi mengalir ke sana. Ustad Iskandar, ketua panitia Peringatan Sembilan Tahun Wafatnya Gus Dur, menyatakan, jumlah peziarah per hari mencapai 3 ribu orang.
Otomatis, itu mendatangkan berkah bagi warga sekitar. Ada yang berjualan makanan dan minuman. Ada yang berdagang suvenir. Ada pula yang menyewakan penginapan. Iskandar memperkirakan ada 500 pedagang. Saat haul, jumlah mereka meningkat. Mencapai 700-an. Mereka berada di pinggir jalan ke arah makam.
Para penjaja makanan itu datang dari berbagai kota. ’’Yang Jombang sekitar 50 persen,’’ kata Iskandar yang juga kepala Ponpes Putra Tebuireng. Sebagaimana disaksikan Jawa Pos kemarin, sebagian peziarah, terutama yang selesai berdoa di makam, berjubel di sentra kuliner.
Di tempat parkir seluas 600 meter persegi, bus dan kendaraan roda empat lain bergantian mengisi. ’’Alhamdulillah, kemarin (saat haul) saya dapat Rp 3 juta sehari,’’ ungkap Lailatul Fitria yang berjualan berbagai suvenir.
Itu berarti naik tiga kali lipat jika dibandingkan pendapatan rata-rata hariannya. Fitria sudah sembilan tahun berjualan di sekitar kompleks Ponpes Tebuireng. Sebelumnya, dia hanya menyuplai toko-toko kecil di sekitar rumah. Setelah makam Gus Dur dibangun, keluarga gadis berusia 25 tahun itu membuka toko di jalan menuju makam. ’’Sekarang semakin ramai,’’ katanya.
Salah satu barang dagangannya yang banyak diburu adalah songkok bertulisan Gus Dur. Kopiah itu dihargai Rp 15 ribu–Rp 20 ribu. ’’Orang-orang belinya bisa lebih dari 15. Mungkin untuk oleh-oleh,’’ jelasnya.



