Keberadaan Sungai Batanghari menjadi sumber penghasilan bagi Junaidi. Ia merupakan salah satu tukang ketek (perahu penyeberangan) di kawasan ancol, Kota Jambi. Sudah 15 tahun lebih profesi ini dijalaninya, untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan dua anaknya hingga mendapatkan pekerjaan.
FAIZARMAN
PERAHU milik Junaidi masih telihat baru. Aroma cat yang masih basah amat terasa ketika Junaidi mengangkut sejumlah penumpang dari kawasan pasar Angso Duo. Begitu juga dengan mesin yang masih mengkilat dibagian belakang. Tenaganya masih kuat. Mesin itu baru saja dibelinya satu bulan lalu dari hasil keringatnya.
Dengan peralatan itulah Junaidi masih tetap semangat untuk bekerja agar asap dapur tetap mengepul. Sehingga dirinya mampu bertahan meskipun sudah 15 tahun lebih menjalani propesi ini. “Rasanya sudah 15 tahun lebih. Perahu saja sudah berapa kali diganti, kalau tidak salah perahu ini yang keempat,” ujarnya.
Dengan pakaian lusuh dan wajah yang terlihat lelah, Junadi bekerja dari pukul 07.00 wib hingga pukul 17.00 Wib. Dengan waktu kerja sepajang hari itu, tak banyak rupiah yang bisa dikumpulkannya seperti beberapa tahun lalu. “Kalau sekarang 100 ribu per hari sudah sangat bersyukur, biasanya bisa kurang dari itu. Beda dengan beberapa tahun lalu, bisa mencapai 200 hingga 300 ribu perhari,” katanya seperti dikutip Jambi Ekspres (Jawa Pos Group), Rabu (25/6).
Meskipun begitu, Junaidi tidak pernah mengeluh. Tidak hanya bisa menghidupi keluarga, dirinya juga sudah bisa mengeyekolahkan dua anaknya hingga meperoleh pekerjaan. “Walupun tidak sampai kuliah, tapi mereka sudah bisa sekolah hingga tingkat SLTA,” ucapnya.
Junaidi menyebutkan, menjadi tukang ketek memang memiliki tantangan seiring perkembangan zaman. Keberadaan transportasi darat yang semakin mudah membuat dirinya dan para tukang ketek lainnya sedikit terpinggirkan. “Tapi kita sekarang tidak terlalu mempersoalkan itu, karena ketek di Sungai Batanghari ini merupakan transportasi tradisional Kota Jambi yang mesti kita jaga,” pungkasnya
(nas/jpg/JPC)



