Featured

Mengikuti Latihan Pilot di Simulator Lakespra Saryanto

×

Mengikuti Latihan Pilot di Simulator Lakespra Saryanto

Sebarkan artikel ini
FOTO: ELIZABETH FOR JAWA POS SIMULASI: Para instruktur mengamati simulator The Airfox ASD di ruang AOT Lakespra Saryanto.

Kali ini saya bersama Kapten Pilot Surya Air Muhammad Hasan. Yang akan disimulasikan adalah heli. Sabuk pengaman harus digunakan. Headphone harus dipakai. Benda itu dipakai untuk alat komunikasi saya dengan pilot dan petugas di luar.

Mulanya kokpit gelap. Hanya ada titik sinar kecil di layar. Dokter Klara Sinabutar SpKP meminta kami memandang titik tersebut. Posisi kami tegak, pedal tidak diinjak dan stik untuk mengendalikan heli didiamkan. Namun, simulator rasanya bergerak ke kanan. ”Mbak pusing?” tanya Klara yang berada di luar alat simulator. Pandangan memang sedikit nggliyeng. Tapi, saya baik-baik saja. Saya juga tidak merasakan mual. Yang dilakukan itu adalah stimulus passive illusion.

Bank bjb Tandamata

Kemudian, Klara meminta kami menengadah dan menunduk. Di sini rasanya pesawat seperti terbalik. Namun, lagi-lagi ini adalah ilusi akibat efek koriolis aktif. Akibat gerakan itu, ada gangguan di vestibular atau sistem keseimbangan tubuh. ”Padahal, gerakan tadi hanya berputar. Tapi, ketika mendongak, maka terjadi kekacauan. Padahal, pesawat hanya berputar,” ungkapnya saat diwawancarai di akhir sesi.

Nah, hal itu kerap dialami penerbang dan sangat berbahaya. Kalau pilot tidak melihat petunjuk posisi pesawat, akan terjadi kecelakaan karena gerakannya kacau. Dia menyarankan, jika pesawat berotasi, tidak boleh ada gerakan kepala yang terlalu ekstrem. Misalnya, mendongakkan kepala. ”Kan di atas kokpit ada instrumen, sebaiknya melirik atau mendongak sedikit saja,” katanya.

Sesi kedua adalah ilusi aktif. Hasan diminta menerbangkan heli. Tujuannya adalah mendarat pada bangunan di tengah laut. Setelah itu, dia ditugaskan untuk mendarat di kapal yang berjalan. Tampilan di layar AOT sama persis dengan aslinya. Saat ada ombak pun terlihat sama. Percikan air itu mengacaukan ketinggian pesawat. Kalau tidak melihat instrumen di heli, pilot tidak bisa memperkirakan tinggi pesawat.

Yang terakhir adalah mendaratkan heli di daerah berpasir. Sejak awal akan mendarat, Hasan sudah ragu. Sebab, dia memperkirakan tidak bisa melihat helipad. Dua kali Hasan mencoba mendekati helipad. Namun, dia tak berani mendarat. Di monitor terlihat warna cokelat seperti pasir gurun.