“Saat lulus SMP usianya masih 13 tahun dan lulus SMA pada tahun 2015 lalu di usia menginjak 15 tahun. Jadi memang, Nadia ini masuk pada program akselerasi,” ujarnya.
Selama ini, masih kata pria kelahiran 50 tahun silam itu, anaknya itu dikenal sebagai anak yang punya watak disiplin, leadership, rajin, suka akan tantangan dan juga selalu berusaha memberikan yang terbaik. Selaku orang tua, tentu Sudirman dan juga isterinya yang kini bekerja di Dinas Kesehatan itu merasa bangga atas kesuksesan dan kecerdasan yang dimiliki anaknya itu.
“Cita-citanya menjadi sorang dokter dan mengabdi di Kabupaten Sukabumi. Alhamdulillah berkat doa dan bimbingan yang kami berikan, setahap demi setahap cita-cita itu bisa terkabul. Semoga saja ke depan, dalam mengabdikan diri di Kabupaten Sukabumi anak saya ini diberikan kelancaran dan kemudahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Nadia Silva membenarkan jika keberhasilannya itu tidak diraih dengan cara mudah. Menurutnya, butuh perjuangan yang sangat luar biasa agar bisa sukses seperti sekarang ini. “Terlebih selama saya di pondok, bangun pukul 03.30 WIB dan baru bisa tidur kembali pukul 21.00 WIB. Selama itu, saya gunakan waktu untuk belajar,” timpalnya.
Nadia mengaku, usaha kerja kerasnya itu ia lakukan demi mewujudkan cita-cita selama ini. Ya, gadis cantik itu bercita-cita menjadi seorang dokter spesialis obgyn karena termotivasi ibundanya yang seorang bidang di lingkungan pemerintah Kabupaten Sukabumi. “Insya Allah, selain emang cita-cita juga sudah niat untuk jadi dokter spesialis obgyn di Sukabumi. Seperti mamah, yang membantu masyarakat selama ini,” akunya.
Nadia kembali menegaskan, capaian prestasi pendidikan yang ia raih itu didapatkan bukan dengan cara mudah. Ia mengaku harus melalui cukup banyak rintangan dan butuh perjuangan untuk melewatinya. Namun ia beruntung karena mendapat dorongan dan motivasi dari kedua orang tua yang senantiasa menerapakan pola disiplin serius dalam mengerjakan berbagai hal, termasuk urusan belajar.
Dengan program akselerasi yang diikutinya, maka ketika teman-teman SMA-nya masih asyik bermain saat liburan sekolah, namun ia sudah harus belajar di fakultas kedokteran. Secara naluri, ia mengaku sempat ada perasaan iri dan kesal karena bisa seperti teman-temannya.




