FeaturedKABUPATEN SUKABUMI

Melihat Kondisi Gunung Cimerang di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya

×

Melihat Kondisi Gunung Cimerang di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya

Sebarkan artikel ini

Ia mengibaratkan, kondisi saat itu seperti konflik yang pernah terjadi di Serambi Mekah, Nangroe Aceh Darussalam. “Saya masih ingat ketika sedang mengamankan barang bukti illegal logging. Diperjalan saya dan juga petugas lainnya dicegat ratusan masyarakat lengkap dengan senjata tajam disetiap tangannya,” cerita Yadi.

Saat itu, situasi mulai tidak karuan. Sementara konflik terus belangsung. Akhirnya, Perhutani meminta bantuan kepada anggota kepolisian. Saat itu, karena kondisi mulai mencekam, maka petugas yang diterjunkan langsung untuk mengamankan wilayah Cimerang adalah Brimob. Setelah Brimob turun tangan, situasi sekitaran Cimerang mulai kondusif. Aktivitas illegal logging mulai berhenti dan beberapa pelaku diproses secara hukum.

Bank bjb Tandamata

“Alhamdulillah, situasi bisa dikendalikan. Tapi sayangnya, nyaris seluruh pohon kala itu habis ditebang. Oknum masyarakat menjualnya,” terang Yadi.

Pasca peristiwa itu, Perhutani secara perlahan menanam kembali tunas-tunas pohon baru di sekitar lokasi bekas penebangan dengan harapan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan Gunung Cimerang akan kembali hijau seperti sedia kala. “Saya harap masyarakat sadar bahwa hutan itu perlu kita jaga bersama. Semoga saja fungsi hutan akan kembali normal saat pohon-pohon tumbuh menjulang,” imbuhnya.

Sementara itu, Didik Kardiaman (40), warga Kampung Cigagak, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya mengaku, alasan ekonomi kala itu memicu tindakan warga menjarah pohon. Namun kini, masyarakat mulai sadar bahwa jika masyarakat menjaga alam, maka sebaliknya alam pun akan menjaga.

“Setelah penebangan itu, kami mulai merasakan dampaknya. Dari sulitnya air, udara panas dan hewan buas mulai turun ke kampung karena hutan rusak. Tapi sekarang kami mulai menyadarinya, kami berkomitmen untuk menjaga gunung Cimerang,” singkatnya. (*/d).