Hanya, di tubuh komunitas SukaQuran juga sering muncul perbedaan. Terutama soal pemahaman akidah Islam. Maklum, di Lapas Sukamiskin ada sejumlah napi yang memiliki wawasan keislaman yang kuat. Contohnya, mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar, serta mantan Menteri Agama Suryadharma Ali.
Kondisi itulah yang kerap memunculkan riak kecil di kalangan para napi yang ingin hijrah. Meski begitu, para guru ngaji yang didatangkan dari luar lapas tidak begitu menggubrisnya. Mereka tetap menggelorakan pembelajaran Alquran kepada para napi yang ikut dalam kegiatan tahsin. “Tidak ada paksaan (ikut ngaji). Kalau ikut, ya alhamdulillah. Tidak juga nggak apa-apa,” timpal Habibi.
Tahsin biasanya digelar di hanggar lapas. Lokasinya tidak jauh dari pintu utama keluar masuk lapas. Kegiatan tersebut umumnya dilaksanakan seusai Duhur sampai menjelang Asar. Kadang juga mulai Asar hingga sebelum Magrib. Setelah ngaji bersama, acara lalu dilanjutkan dengan makan bareng. Sup kambing menjadi menu favorit anggota komunitas SukaQuran. “Kadang juga (ngaji) di saung, sekaligus untuk evaluasi,” kata Habibi.
Kegiatan ngaji paling ramai pada bulan Ramadan. Terutama pada 10 malam (iktikaf) terakhir bulan puasa. Dimulai pukul 21.00 sampai 03.00 atau saat masuk waktu sahur. Nah, pada momen itu, banyak napi korupsi yang melakukan perenungan diri di dalam masjid.
Tak jarang yang kemudian menangis tersedu-sedu sambil tetap membaca Quran. Namun, ketika didekati para guru ngaji, tidak ada yang mau menceritakan dengan detail penyesalan mereka atas perbuatan yang pernah mereka lakukan. “Mungkin mereka menyadari, ayat yang dibaca menegur mereka,” ungkap Habibi.
Bagaimana dengan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov), apakah juga ikut mengaji? Sejauh ini, kata Habibi, Setnov belum rutin mengikuti kegiatan tersebut. “Pak Setnov di awal-awal (masuk lapas) saja. Pas masuk lapas, kebetulan saya yang ngimami. Dia sempat berpidato, ‘Alhamdulillah, saya sudah masuk sini dan mudah-mudahan saya lebih baik lagi. Saya masuk ke lapas ini mungkin ditegur Allah’,” kenang Habibi.





