FeaturedNASIONAL

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut

×

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut

Sebarkan artikel ini

Pascakecelakaan tragis itu, Mauluddin ikut bimbingan anak disabilitas. Dia mendapat pengajaran keterampilan grafika. Kemudian dia kembali ke kampung pada 1997. Tak banyak yang dilakukannya di kampung halaman. Keterampilan bidang grafika yang dimilikinya seakan sia-sia.

Rasa bosan membuat Mauluddin berangkat ke Medan untuk mengadu nasib pada tahun 2000. Dia pergi ke daerah Pelabuhan Belawan. Mauluddin kembali bekerja serabutan untuk memenuhi penghidupannya. 15 tahun dia berada di Kota Medan. Pahitnya kehidupan ibu kota menjadi pelengkap hidupnya. Akhir 2015 Mauluddin memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman.

Bank bjb Tandamata

Ketika pulang, dia melihat sekolah dasar yang letaknya dekat rumah tidak memiliki tenaga pengajar. Semangat murid yang bersekolah mendorongnya untuk menjadi tenaga pengajar. “Tapi melihat murid-murid di sini terlalu prihatin, terus berniat untuk mengajar. Saya kasihan,” tuturnya.

Selama mengajar, Mauluddin diupah Rp 500 ribu perbulannya. Pendapatan yang diperolehnya tidak sebanding dengan jasanya sebagai tenaga pendidik. Mauluddin juga tidak berstatus sebagai honorer. Hanya masyarakat yang diangkat sebagai tenaga pengajar.

Mauluddin mengaku, punya keinginan diangkat sebagai PNS. Sama seperti tenaga pengajar lainnya. Namun cita-citanya itu ibarat mimpi belaka. Karena, tempat dia mengajar seakan luput dari perhatian pemerintah. Dinas pendidikan juga tidak pernah datang untuk melihat kondisi sekolah. “Dari sejak saya sekolah di sini, kondisi sekolah dulu dan sekarang tidak ada bedanya. dari dibangun sampai sekarang memang sudah seperti ini,” ungkapnya.