FeaturedNASIONAL

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut

×

Kisah Penyandang Disabilitas Mengabdi Sebagai Guru di Pelosok Sumut

Sebarkan artikel ini

SD tempat Mauluddin mengajar tidak seperti sekolah diperkotaan. Kondisi bangunan sudah rusak parah. Beberapa bagian dinding papan sudah banyak yang bolong. Lantai semen juga sudah rusak. Beruntung jarak sekolah hanya beberapa meter dari tempat tinggalnya.

Awalnya, dia bekerja sebagai penjaga sekolah. Namun, hatinya tergerak untuk memberikan ilmu kepada para murid, karena sekolah tersebut kerap ditinggal tenaga pengajar dari luar desa. Hatinya pun tergerak untuk memberikan ilmu kepada para murid. “Perasaan saya semenjak mengajar ini kadang-kadang senang. Mengajar itu sudah seperti sebuah hobi,” katanya.

Bank bjb Tandamata

Menjadi pengajar murid SD bukanlah hal mudah. Apalagi Mauluddin hanyalah lulusan SMP. Pendidikan SMA yang dienyamnya di daerah Rantau Prapat tidak selesai karena kesulitan ekonomi usai ayahnya meninggal.
Kisah Mauluddin sampai menjadi pengajar di kampung halamannya cukup panjang. Tahun 1992 Mauluddin sempat merantau Pekanbaru dan Kota Medan. Namun, dia kembali lagi ke kampung. Dua tahun berada di kampung, akhirnya dia berangkat ke Jakarta. Di sana Mauluddin bekerja serabutan.

Nahas, Mauluddin menjadi korban tabrak lari ketika mengendarai sepeda motor. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter mengamputasi kaki kirinya. Mauluddin frustasi, bahkan dia nyaris bunuh diri setelah sadar kakinya sudah diamputasi.

“Saya bisa bangkit lagi karena mengikuti bimbingan rohani. Kebetulan pembimbingnya itu dari daerah Tapanuli Selatan. Jadi katanya, nanti kalau udah sehat jangan terlalu banyak pikiran. Nanti kalau sudah sehat dikasih kerja katanya,” ujar Mauluddin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.