Dalam melukis, Erik mengaku lebih menuruti selera pasar dan permintaan pasar. Hanya saja, dalam berkarya masih tetap memegang idealisme. “Kalau saya memang menuruti pasar, biar semakin banyak rumah yang punya lukisan,” ujarnya.
Prinsip dalam melukis ini berbuah dengan ramainya kunjungan warga ke galeri yang dikelola. Bahkan, untuk menutupi jumlah permintaan, sampai memesan lukisan pada pelukis lain yang ada di Banyuwangi dan Bali. “Saya juga membawa karya teman-teman ke sini,” cetusnya.
Dari daftar hitungannya, lukisan yang dibawa pulang para kolektor termasuk cukup banyak. Dalam sebulan, 30 lukisan bisa keluar dari galeri. “Saya menghitungnya itu bulanan,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Perkembangan dunia seni lukis di Banyuwangi, dinilai Erik cukup pesat. Dalam sepuluh tahun terakhir, masalah lukisan ini menjadi bahan diskusi di daerah Banyuwangi Selatan. Itu tidak lepas dari bakat muda yang banyak muncul, seperti Sarwo, Eliezer, Rohman dan pelukis muda lainnya.
Tapi dirinya juga prihatin dengan generasi muda Banyuwangi yang memiliki potensi di dunia lukis, harus hijrah ke Bali dan menetap di sana. Padahal, jika ditekuni kegiatan melukis bisa hidup dan menghidupi di Banyuwangi. “Tidak harus ke Bali,” cetusnya.
Kecenderungan hijrah itu karena para talenta muda, biasanya bingung menentukan langkah untuk tekun dan total di dunianya. Selama ini banyak yang beranggapan tidak bisa meraup untung dari kegiatan lukis. “Banyak potensi (pelukis) lokal yang tidak bisa menentukan langkah,” ungkapnya. (abi).(bw/sli/als/JPR)





