Satu naskah disumbangkan seorang pedagang barang antik pada 1990-an. Saat itu pedagang tersebut mengaku baru membeli sebuah peti kayu. Dia menemukan beberapa lembar naskah bertulisan aksara Jawa. Namun, dia tidak bisa membaca aksara Jawa. Mendengar ada beberapa akademisi UNS yang sedang mengumpulkan naskah Jawa, pedagang itu lantas mendatangi John dan Agus.
Naskah tersebut ternyata ditulis Demang Warsapradongga, seorang pejabat niaga dari Kepatihan Kasunanan Surakarta. Disusun pada era kisaran 1893–1906. Isinya memuat bentuk-bentuk notasi gending-gending Surakarta. Di dalamnya termasuk gending-gending yang umum, tidak biasa, dan baru menurut musikologi. ”Saya kaget, penting sekali isinya,” tutur John.
Sang penulis membubuhkan mukadimah dalam naskah tersebut yang bunyinya (kurang lebih): ”…Agar (gending-gending Surakarta, Red) nanti bisa diingat untuk selamanya. Jadi tidak akan hilang. E, seperti itulah tujuan seorang niyaga…,” tulis Warsapradongga. Ironisnya, kata John, walaupun ditulis supaya gending-gending Surakarta tidak hilang, naskah itu justru menjadi alas di dalam sebuah peti. ”Karena hal-hal seperti inilah Yasri lahir,” kenang John.
Pada Oktober 2018, situs sastra.org telah meregister lebih dari 1.425 naskah/buku langka. Lengkap dengan katalog dan dipajang menjadi 2.451 koleksi digital. Situs itu juga didukung sistem leksikon untuk menemukan istilah-istilah rumit dengan bersumber pula pada 31 sumber kamus (bausastra), sinonim (dasanama), glosari, hingga daftar kata lain. Jumlah yang berhasil dihimpun mencapai 153.269 entri berisi sekitar 18,6 juta kata.
Rumah putih kantor Yasri di Timuran juga masih sering dikunjungi para pelajar, dosen, peneliti, hingga masyarakat umum. Ada yang sekadar melihat-lihat koleksi naskah, ada pula yang mencari referensi.
(*/c10/oni)



