Featured

Digitalisasi Naskah Jawa oleh Yayasan Sastra Lestari (Yasri)

×

Digitalisasi Naskah Jawa oleh Yayasan Sastra Lestari (Yasri)

Sebarkan artikel ini

Saat Jawa Pos berkunjung Jumat lalu (5/10), beberapa perempuan tengah sibuk memelototi lembaran-lembaran lusuh berwarna kuning, berisi deretan huruf-huruf beraksara Jawa. Mereka, antara lain, adalah Abdi Utami, Pradjna Paramita Hapsari, dan Dian Lestari. Mereka sedang menerjemahkan dua kitab prosa Jawa dengan huruf cetak. Isinya Babasan lan Saloka. Berisi peribahasa dan ibarat-ibarat kehidupan manusia. ”Pengarangnya anonim,” ujar Utami.

Di rumah tersebut, Utami dan Dian melakukan alih aksara. Mereka duduk di meja berteman kitab dan laptop. Mereka membaca, lalu menyalin ke dalam naskah latin. Sedangkan Mita –panggilan akrab Paramita– sibuk mengetik kode-kode HTML dan menyisipkannya di antara naskah.

Bank bjb Tandamata

Kode-kode itu nanti mengatur letak tulisan-tulisan mereka. Mana yang jadi judul, mana yang jadi bodi, rata kanan atau rata kiri. Mana yang tebal, mana yang miring. Website www.sastra.org tidak neko-neko. Tanpa iklan, tanpa desain macam-macam. Teksnya juga bebas dikopi.

Masuk lebih ke dalam, ada ruangan besar lain. Dipenuhi lemari dan rak buku. Di situlah naskah-naskah disimpan dalam kotak vandel tebal, dibungkus plastik agar aman. Diberi nomor seri, tahun penerbitan, dan asal naskah tersebut. ”Total ada 1.425 naskah, sudah 90 persen tersalin,” jelas Utami.

Ada banyak naskah terkenal yang dimiliki Yasri. Mulai Serat Centhini, Babad Tanah Jawi, hingga Babad Ranggawarsita. Ada juga dua naskah Jangka Jayabaya versi Tanaya. Satu menceritakan tujuh epos kehidupan manusia, mulai Jaman Kalawisesa, Kalasri, Kalawisaya, Kalajangga, Kalasakti, Kalajaya, hingga Kalabendu alias Jaman Gonjang-ganjing. Satu lagi menceritakan tentang sejarah generasi manusia penghuni Pulau Jawa yang memfiturkan tokoh legendaris Dang Yang Semar dan saudaranya, San Togog, serta kedatangan Seh Bakir (Syekh Subakir) ke tanah Jawa.

Di meja juga tergeletak kitab tembang macapat terkenal karya Raden Tumenggung Prawirasentika berjudul Babad Majapahit. Kitabnya masih utuh. Kitab itu diklaim asli dan berasal dari abad ke-19. Sampulnya tebal dengan kertas daluwang yang jilidnya hampir lepas.