Babad Majapahit adalah karya sastra kanonikal bergenre romantis yang menceritakan tentang liku-liku kisah cinta Damar Wulan, sang kesatria tampan yang menjadi pahlawan di masa pemerintahan Ratu Kencana Wungu.
Kisah romantis dalam Babad Majapahit mengalir dalam berbagai mood episode, dandanggula yang lembut, asmarandana yang romantis, hingga bagian pangkur yang penuh konflik. ”Biasanya kalau cerita-cerita peperangan ada di bagian pangkur,” jelas Utami.
Sejak 1997, Yasri berjibaku menyalin naskah-naskah kuno beraksara Jawa ke dalam tulisan Latin yang diunggah ke website. Berbeda dengan lembaga lain yang cenderung melakukan preservasi naskah dengan cara memotret atau memindai lembar demi lembar, Yasri memilih menyelamatkan dulu isi naskah-naskah tersebut. Alasannya, berkejaran dengan waktu. Tenaga dan sumber daya yang mampu melakukan alih aksara terbatas. Sementara itu, naskah-naskah terus berdatangan. Beberapa kondisinya hampir rusak.
Ide awal dimulai oleh John Paterson, seorang berkebangsaan Australia yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Dia akhirnya bergabung dengan para penggiat budaya dan sastra. Salah satunya adalah Agus Momanat. Mereka berdualah yang mendirikan Yasri.
John menuturkan, pada 1990-an dirinya sering berkeliling Solo. Saat itulah dia menemukan lembaran-lembaran naskah terserak di antara keranjang pedagang loak, tergeletak berdebu di atas lemari, atau terserak di beberapa perpustakaan. John sempat beberapa kali menengok naskah-naskah loak tersebut. Terkaget-kaget setelah melihat isinya. ”Banyak kebijaksanaan yang dimiliki bangsa ini justru ada di naskah-naskah yang dibuang itu,” katanya saat berbincang dengan Jawa Pos beberapa waktu lalu.
John menemukan filosofi persatuan ”sapu lidi” yang mungkin sudah sangat akrab di telinga orang Indonesia. Filosofi tersebut ternyata berasal dari ungkapan ”sapu ilang suhe”. ”Ungkapan ini banyak muncul di dalam naskah bebasan dan saloka, dongeng, cerita kancil, bauwarna/bausastra, juga di majalah mingguan kejawen,” jelasnya.
Agus lantas menambahkan, sejak saat itu muncul ide di kalangan penggiat budaya di Solo untuk membentuk lembaga pelestari naskah. ”Kami resmi berdiri 1997,” kata Agus. Sejak itu banyak yang memiliki naskah Jawa, tapi tidak tahu artinya, menyumbangkan naskahnya ke Yasri.



