Baru sejurus kemudian, perempuan kelahiran 1968 itu sadar telah terjadi gempa bumi. Sebab, guncangan keras terus-menerus terjadi. Dia bahkan kesulitan untuk sekadar berdiri. ’’Di rumah sendirian. Suami sudah ke musala lebih dulu,’’ paparnya.
Para pendatang Jawa umumnya masuk ke Sigi sejak akhir 1980-an. Untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Tapi, bukan bagian dari program transmigrasi yang digalakkan pada era pemerintahan Orde Baru. Pekerjaan para suami macam-macam. Misalnya, jadi tukang gergaji pohon, kuli pelabuhan, atau sopir angkutan pikap. Sedangkan para ibu rata-rata bekerja di kebun.
Dampak gempa 28 September lalu itu, banyak dinding bagian rumah Mbok Atun yang retak. Walaupun begitu, dia bersyukur. Rumahnya tidak sampai rata dengan tanah seperti rumah-rumah di Desa Jono Oge yang terletak sekitar 2 kilometer dari Desa Langaleso.
Rumah Mbok Atun dipilih sebagai lokasi dapur umum karena sejumlah faktor. Di antaranya, posisi dapur yang berada di luar bangunan rumah. Perempuan 50 tahun tersebut juga punya tiga tungku masak. Selain itu, stok kayu bakarnya melimpah. Jarak dapur dengan sumur juga dekat. ’’Nggak semua sumur di sini airnya melimpah,’’ tutur ibu dua anak tersebut.
Dapur umum tersebut menggeliat sejak pukul 07.00. Diawali dengan menanak nasi. Sesudahnya memasak sayur dan lauk. Terkait menu, tiap hari bervariasi. Misalnya, tumis kacang dan sambal goreng. Juga, lauk yang digoreng. Di antaranya, ikan, ayam, tahu, tempe, dan telur.
Sumber dananya, kata Rani, berasal dari donatur yayasan pondok. Mereka ingin menyalurkan sebagian uang mereka untuk para korban. ’’Berkaca pada hari-hari pertama pascagempa, korban di pengungsian sangat butuh makanan,’’ ujar perempuan asal Sragen itu.



