ENTERTAINMENT

Tangis Dara The Virgin Ungkap Beratnya Jadi Generasi Sandwich

×

Tangis Dara The Virgin Ungkap Beratnya Jadi Generasi Sandwich

Sebarkan artikel ini
Tangis Dara The Virgin

Jakarta – Industri hiburan tanah air menyimpan berbagai kisah, tak hanya gemerlap popularitas namun juga lika-liku kehidupan pribadi para pesohornya. Seperti Dara The Virgin, yang membuka lembaran pilu dalam hidupnya.

Sambil tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan pengalamannya menjadi seorang sandwich generation sejak usia belia, hingga kenyataan pahit kehilangan seluruh aset yang telah dikumpulkannya dengan susah payah.

Bank bjb Tandamata

Dalam sebuah wawancara yang kemudian viral di berbagai platform media sosial, Dara menceritakan bagaimana dirinya telah memikul tanggung jawab finansial untuk keluarganya sejak usia 16 tahun.

Istilah sandwich generation sendiri merujuk pada generasi dewasa yang harus menanggung beban hidup tiga generasi sekaligus. Diantaranya yaitu orang tua, diri sendiri, dan bahkan tak jarang anak-anak atau anggota keluarga lain yang membutuhkan.

Kisah pilu Dara bermula ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah dan membangun keluarga masing-masing.

Di tengah situasi yang sulit ini, Dara merasa terpukul karena ia harus menanggung beban untuk menghidupi kedua orang tuanya beserta kedua adiknya.

“Mama sudah punya keluarga lagi, papa juga, adik juga sudah. Jadi, aku yang harus menanggung semuanya,” ungkap Dara.

Sebagai seorang pekerja di industri hiburan, Dara tentu memiliki penghasilan. Namun, alih-alih dapat menikmati hasil jerih payahnya sendiri, sebagian besar rezekinya harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ia mengaku ikhlas melakukan hal tersebut demi orang-orang yang dicintainya. “Aku ikhlas buat keluarga, ikhlas banget,” tuturnya.

Namun, puncak dari kesedihan Dara terjadi ketika ia menyadari bahwa aset-aset yang telah dikumpulkannya sejak usia 16 tahun, berupa sawah dan kontrakan, telah dijual oleh keluarganya tanpa sepengetahuan dirinya.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2017, ketika Dara berencana untuk menjual salah satu asetnya untuk keperluan pribadinya. Pengakuan Dara ini sontak membuat banyak orang terkejut dan merasa iba.

Bagaimana tidak, di usia yang seharusnya menjadi masa untuk menikmati hasil kerja keras, Dara justru harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan segalanya.

Ia mengaku sangat marah dan sedih atas kejadian tersebut. Meski demikian, Dara berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan dan amarah. Ia menyadari bahwa sebagai manusia, rasa sakit hati tentu tidak bisa dihindari. ***