“Saya hanya kepikiran satu saat lihat orang melakukan cutting koi. Ada bahan, kenapa tidak dicoba?” ujarnya menceritakan pemikirannya saat itu.
Sumadi kemudian mencari informasi tentang keahlian cutting itu. Setelah ketemu dia pun berguru. Belajar hingga satu tahun lamanya. Sebelum akhirnya benar-benar berani melakukan aksi cutting sendiri.
Keberanian Sumadi tak terlepas dari aktivitasnya sebagai pemelihara ikan koi. Sebab, dengan menggunakan ikan miliknya sendiri Sumadi lebih berani. Karena secara teknik, melakukan cutting juga berisiko pada matinya ikan. Sebab, sebelum disalon, sang ikan harus dibius terlebih dulu.
“Kalau takaran bius ndak pas, ikan bisa mati,” ingat Sumadi.
Saat berpraktik sendiri, ternyata ada kesulitan tersendiri. Agak berbeda dengan yang dia pelajari. Terutama dari sisi takaran dosis obat bius.
Sebab, saat belajar ukuran ikan koi yang di-cutting berbeda dengan saat dia berpraktik sendiri. “Jadi saya harus menentukan sendiri takaran dosis bius yang pas,” kenangnya.
Usai memahami takaran dosis, kesulitan lain masih menunggu. Dan ini bisa jadi lebih bahaya lagi. Yaitu saat pengangkatan ikan dalam proses cutting. Saat dikerik sisiknya, ikan memang harus berada di luar air.





