“Selain itu, nilai rupiah secara efektif tetap 5,3 persen lebih kuat dari pada nilai di Januari 2014 waktu itu, menyusul akibat yang berkepanjangan dari apresiasi ril yang terjadi pasca Taper Tantrum,” jelas dia.
Chaves bilang, langkah-langkah makroprudensial, terutama yang terkait dengan lindung nilai (hedging) terhadap eksposur mata uang asing oleh korporasi, telah berkontribusi terhadap ketahanan.
Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean berpendapat, sejalan dengan kenaikan repo rate, maka valuasi teoretis yield obligasi 10 tahun Indonesia pada Juni berada di antara 7,20-7,50 persen.
(*)



