Kenaikan Harga Pangan Jelang Lebaran, Kerek Inflasi Kota Sukabumi

  • Whatsapp
MAKRO: Pedagang daging di kawasan Cisaat Kabupaten Sukabumi sedang melayani konsumen. Harga daging sapi menjelang Lebaran selalu mengalami kenaikan harga secara signifikan. (Widi/RadarSukabumi)

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.COM – Setiap menjelang Lebaran, harga sejumlah bahan pokok pasti mengalami kenaikan harga. Hal ini terjadi lantaran permintaan yang tinggi dari konsumen menjelang hari raya Idul Fitri.

Sejumlah bahan pangan dan sembako pun mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan salah satunya daging sapi yang mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan mencapai Rp150 ribu/ kilogram (kg) hingga menjelang H-1 Lebaran.

Bacaan Lainnya

Naiknya sejumlah harga bahan pangan dan sembako tersebut berdampak pada kenaikan Harga Indeks Konsumen (IHK) di Kota Sukabumi.

Berdasarkan pantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi, pada Mei 2021 Kota Sukabumi mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,61 persen. Sementara tingkat inflasi tahun kalender Mei 2021 sebesar 0,91 persen, dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2021 terhadap MeiĀ  2020) sebesar 1,68 persen.

Kepada Radar Sukabumi, Kasi Distribusi BPS Kota Sukabumi, Sri Rachmawati mengatakan, terjadinya inflasi di Kota Sukabumi disebabkan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga beberapa kelompok pengeluaran. Adapun kelompok pengeluaran yang berpengaruh terhadap inflasi Kota Sukabumi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,03 persen dengan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu daging sapi sebesar 0,0493.

“Kebetulan untuk Mei itu bertepatan dengan Lebaran, sehingga harga melonjak naik tak terkecuali daging sapi,” terang Kasi Distribusi BPS Kota Sukabumi, Sri Rachmawati, Minggu (6/6).

Sementara itu, dari pantauan BPS Kota Sukabumi menyebut Mei 2021 di Kota Sukabumi beberapa kelompok yang mengalami inflasi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesarĀ  0,03 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,15 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,11 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01
persen, kelompok transportasi sebesar 0,22 persen, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,45 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok pakaian dan alas kaki
sebesar 0,03 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,34 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,08 persen.

“Di sisi lain terdapat dua kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan indeks harga, yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya serta kelompok pendidikan,” tutupnya. (wdy)

loading...

Pos terkait